Lebaran 2025 diramaikan dengan munculnya tarian unik yang viral di media sosial, dikenal sebagai “Tarian THR”. Tarian ini mendadak mewarnai berbagai unggahan TikTok dan Reels, berkat akun seperti @sampit.update dan figur publik seperti Bunda Corla yang turut memopulerkannya.
Baca Juga :
Fenomena Tarian THR: Viral di Lebaran 2025, Antara Tren Hiburan dan Kontroversi Budaya
Mengungkap Fenomena Tarian Velocity: Kreativitas, Tren Sosial, dan Pengaruhnya pada Kesehatan Mental
Gerakan tarian ini cukup khas—mengayunkan kaki kiri dan kanan secara bergantian, lalu melompat-lompat kecil menyerupai kelinci, atau yang dalam istilah tari dikenal sebagai bunny hop. Beberapa netizen menganggap tarian ini mirip dengan Hora, tarian rakyat khas Yahudi. Namun, Bunda Corla menjelaskan bahwa tarian ini sebenarnya berasal dari Finlandia dan tidak memiliki kaitan langsung dengan tradisi Yahudi.
Klarifikasi ini membuka pintu bagi warganet untuk menelusuri lebih dalam asal-usul gerakan tersebut. Dalam situs berbahasa Inggris, LibraryOfDance.com, dijelaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari tarian Letkiss—variasi dari tarian rakyat Finlandia bernama Letkajenkka. Tarian ini sendiri merupakan bentuk modifikasi dari Bunny Hop, sebuah tarian yang pertama kali diperkenalkan oleh siswa Balboa High School di San Francisco pada tahun 1952.
Tarian Bunny Hop kemudian semakin populer setelah musisi Ray Anthony menggubah lagu khusus untuk mengiringinya. Satu dekade setelahnya, Finlandia memperkenalkan Letkajenkka sebagai bentuk baru dari Bunny Hop dengan irama musik rakyat modern dan gerakan yang dimulai dengan kaki kiri.

Pada tahun 1963, musisi Finlandia Rauno Lehtinen memperkenalkan lagu berjudul “Letkis” yang menjadi pengiring resmi tarian ini, dan menjadikan genre ini mendunia. Meski namanya dalam bahasa Finlandia berarti “ayo berciuman”, popularitas lagu dan tariannya melesat berkat daya tarik gerakannya yang seru dan bisa dilakukan bersama-sama dalam barisan panjang.
Kini, tarian ini hadir kembali dalam bentuk yang lebih sederhana dan menghibur, serta dijuluki “Tarian THR” karena viral di tengah musim tunjangan Hari Raya. Di tengah suasana Lebaran yang penuh suka cita, tarian ini menjadi simbol kegembiraan lintas budaya—dengan irama yang ringan, gerakan ceria, dan tentu saja, nuansa kekeluargaan yang khas Idul Fitri.









