Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita event

DDII Gelar Haflah dan Silaturahim Idul Fitri 1446 H: Teguhkan Komitmen Dakwah dan Keindonesiaan

Jakarta –Dalam suasana hangat Idul Fitri 1446 H, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menggelar Haflah dan Silaturahim akbar di Markas DDII, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta, pada Ahad, 20 April 2025 bertepatan dengan 20 Syawal 1446 H. Acara ini menjadi ajang temu keluarga besar DDII dari berbagai daerah, sekaligus momentum refleksi atas peran strategis dakwah dalam memperkuat persatuan bangsa.

Ketua Umum DDII, Dr. Adian Husaini
Ketua Umum DDII, Dr. Adian Husaini berpidato di panggung Haflah dan Silaturahim akbar di Markas DDII

Hadir dalam kegiatan ini tokoh-tokoh nasional, ulama, akademisi, hingga perwakilan DDII dari berbagai daerah seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, Jawa Timur, dan Solo Raya. Sejumlah pejabat negara juga turut hadir, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menko Pangan Zulkifli Hasan, dan Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung.

Ketua Umum DDII, Dr. Adian Husaini, dalam sambutannya menegaskan pentingnya melanjutkan tiga warisan besar para pendiri DDII: aset intelektual, aset keteladanan, dan aset wakaf. Ia menyampaikan bahwa DDII kini aktif di 32 provinsi dan lebih dari 200 kabupaten/kota, mengirim ratusan dai ke pelosok negeri, “dari Pulau Enggano hingga Pulau Buru,” ujarnya dengan penuh semangat.

Momen istimewa terjadi saat DDII secara resmi membacakan dan menyerahkan surat kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, melalui Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Dalam surat tersebut, DDII mengusulkan penetapan 3 April sebagai Hari NKRI, merujuk pada kontribusi Mohammad Natsir melalui Mosi Integral yang menyatukan Indonesia pada 1950.

Ahmad Muzani dalam sambutannya menyatakan bahwa “hanya Indonesia yang mampu mengubah bentuk negara menjadi kesatuan tanpa peperangan. Itu adalah buah dari kedewasaan dan visi tokoh-tokoh Islam seperti Pak Natsir.”

Kesaksian menyentuh datang dari Ustadz Majdi, dai senior dari Pulau Buru, yang sejak 1985 berdakwah di wilayah terpencil tanpa listrik, sinyal, atau gaji tetap. “Saya berdakwah bukan karena kafalah, tapi karena iman,” ungkapnya penuh haru. Ia mulai ditugaskan saat masih berusia 18 tahun.

Ibu Aisyah Natsir (83), putri dari tokoh bangsa Mohammad Natsir, turut memberikan pidato penuh inspirasi tentang kiprah sang ayah dalam mendirikan rumah sakit, pendidikan, dan jaringan dakwah. “Abah menyebutnya dakwah bil hal — dakwah melalui kerja nyata,” ujarnya.

Dalam sambutan virtualnya, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Dr. H. Jusuf Kalla, menyampaikan apresiasi atas kiprah DDII dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah dan dakwah di seluruh pelosok Indonesia. Ia menekankan ukhuwah sebagai fondasi utama persatuan bangsa.

Prof. Dr. Didin Hafiduddin, Ketua Dewan Pembina DDII, menutup rangkaian acara dengan pesan tegas: “Dakwah adalah solusi peradaban. Menjaga agama, umat, dan negara adalah tugas setiap Muslim.”

Haflah DDII 1446 H ini bukan hanya menjadi ajang silaturahim, namun juga penguatan misi dakwah, kaderisasi dai, dan upaya mempertahankan nilai-nilai keislaman dalam bingkai keutuhan NKRI.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *