20 Ribu Jemaah Padati Masjid Raya JIC untuk Shalat Idul Adha 1446 H, 161 Hewan Kurban Disalurkan
Jakarta — Sekitar 20 ribu jemaah memadati Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC), Koja, Jakarta Utara, untuk melaksanakan Shalat Idul Adha 1446 Hijriah/2025 Masehi, Jumat (6/6/2025). Sejak pagi, sebagian jemaah rela datang lebih awal demi mendapatkan tempat strategis di dalam maupun di halaman Masjid Raya JIC.

Menurut Kepala Divisi Takmir Masjid Raya JIC, KH Ibnu Abidin, Lc, jumlah jemaah yang hadir pada Shalat Idul Adha biasanya lebih banyak dibandingkan Shalat Idul Fitri.
“Karena memang tidak banyak yang pulang kampung, sehingga mereka memilih melaksanakan Shalat Idul Adha di Jakarta Islamic Centre,” ujar Kiai Ibnu Abidin kepada media usai pelaksanaan shalat.
Pada momen Idul Adha tahun ini, Masjid Raya JIC menerima sebanyak 28 ekor sapi dan 133 ekor kambing dari para pekurban. Seluruh hewan kurban akan disembelih dan disalurkan kepada masyarakat sekitar pada Sabtu (7/6/2025).
“Jumlah hewan kurban yang kami terima cukup banyak. Tetapi kadang lebih banyak orang yang membutuhkan. Tentu kami berupaya semaksimal mungkin untuk berbagi kepada masyarakat sekitar,” ungkap Kiai Ibnu Abidin.
Pelaksanaan Shalat Idul Adha di Masjid Raya JIC kali ini menghadirkan Prof. Husnan Bey Fananie sebagai khatib. Dalam khotbahnya, Prof. Husnan mengajak umat Islam untuk meneladani keluarga Nabi Ibrahim Alaihissalam, yang kisahnya selalu diingat dalam perayaan Idul Adha.
“Setiap kali sampai momen Idul Adha, kita diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim. Kisah penuh teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman,” jelas Prof. Husnan, cucu dari salah satu trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.
Ia mengisahkan kembali perjalanan spiritual Nabi Ibrahim yang menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail Alaihissalam.
“Nabi Ibrahim meyakini bahwa perintah tersebut berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ismail pun bersedia, karena meyakini bahwa perintah itu datangnya dari Allah,” terang Prof. Husnan.
Namun, Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing yang telah disediakan.
“Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan, keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah,” ujar Prof. Husnan.
Ia pun mengajak umat Islam untuk terus meneladani semangat ketaatan, keteladanan, dan pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim.
“Para orang tua memulai melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Para pemuda-pemudi kita bisa menduplikasi perilaku mulia dari orang tua, guru, dan para pejabat publik. Alangkah indahnya hidup ini dan damainya Indonesia, jika setiap keluarga hanya menularkan kebaikan dalam perilaku sehari-harinya,” tutup Prof. Husnan.









