Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita Kemanusiaan Palestina Kini

Global Sumud Flotilla Masuki Zona Kuning, Husein Gaza Minta Pemerintah RI Perhatikan Pergerakan GSF

Jakarta, 30 September 2025 – Konvoi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa misi solidaritas internasional untuk Palestina kini telah memasuki zona kuning, wilayah perairan rawan yang berjarak sekitar 300 nautical miles dari Gaza.

KH. Bachtiar Nasir beserta Delegasi IGPC untuk Global Sumud Flotilla, Perwakilan NGO dan Perwakila Aktifis Palestina
KH. Bachtiar Nasir ( kiri depqn peci hitam) beserta Delegasi IGPC untuk Global Sumud Flotilla, Perwakilan NGO dan Perwakila Aktifis Palestina, dalam acara press conference “Konsolidasi NGO dan Aktifis Mengawal Global Sumud Flotilla” pada Selasa, 30 September 2025, di Hotel Balairung, Jakarta. ( Foto : Edy Panjimas )

 

Dalam misi ini, terdapat tiga utusan Indonesia. Salah satunya adalah Husein Gaza yang berada di atas kapal Summertime, kapal pengamat yang bertugas mendokumentasikan setiap potensi pelanggaran hukum internasional terhadap GSF. “Kami mohon Pak Prabowo menyebut Global Sumud Flotilla di publik sehingga lebih banyak bangsa Indonesia mengetahui pergerakan ini,” ujarnya melalui sambungan dari kapal.

Sementara itu, dua WNI lainnya, Wanda Hamidah dan Muhammad Faturrahman, masih tertahan di Pelabuhan Partopalo, Italia, akibat kerusakan kapal.

Ancaman Serangan dan Sabotase

Sejak keberangkatan, armada flotilla menghadapi berbagai serangan dan intimidasi. Kapal-kapal GSF dilaporkan telah tiga kali diserang drone, dua kali di perairan Tunisia dan sekali di dekat Yunani. Bahkan serangan bom drone beracun sempat menyebabkan sejumlah relawan keracunan hingga harus dirawat di rumah sakit di Yunani.

Armada Global Sumud Flotilla yang bertolak dari pelabuhan Barcelona dan Sicily sudah memasuki zona kuning. ( Gambar : Tangkap layar Video laporan Husein Gaza )

Selain itu, para nakhoda kapal juga menerima ancaman langsung, membuat sebagian kapten enggan melanjutkan pelayaran. Hal ini memperlihatkan betapa tingginya risiko yang dihadapi relawan internasional dalam menembus blokade ilegal Israel.

Pembina Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Bachtiar Nasir, menegaskan pentingnya perhatian pemerintah. “Kami juga memohon pemerintah Indonesia memperhatikan pergerakan konvoi GSF karena ada warga negara kita di sana,” katanya.

Solidaritas dan Peran Indonesia

Indonesia sendiri telah mengirim 30 utusan untuk pelatihan di Tunisia sekaligus berkontribusi membeli lima kapal. Namun, dari 21 kapal GSF, hanya sepertiga yang berhasil berlayar. Dalam semangat solidaritas, delegasi Indonesia bahkan merelakan kursi kapal untuk dokter dan anggota parlemen Eropa, guna memperkuat legitimasi misi di dunia internasional.

GPCI mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam aksi solidaritas di media sosial, menyuarakan dukungan terhadap GSF, dan terus menggaungkan perjuangan membuka koridor kemanusiaan menuju Gaza.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *