Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita

MUI DKI dan UIA Gelar Seminar Internasional: Islam, Identitas Kebangsaan, dan Tanggung Jawab Sosial

Jakarta — Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta bekerja sama dengan Universitas Islam As-Syafi’iyyah (UIA) menggelar seminar internasional bertema “Islam and National Identity: From Religious Affiliation to Social Responsibility” di Graha Alawiyah, Kampus UIA, Jakarta, Rabu (30/9).

Prof. Dr. Syeikh Muhammad Salim Abu ‘Ashi, M.A., Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo ( berpeci putih ).

Seminar ini menekankan pentingnya memperkuat dasar akademis dan keagamaan dalam memahami bahwa Islam memiliki khazanah pemikiran klasik yang mendukung integrasi iman, kebangsaan, dan tanggung jawab sosial.

Rektor UIA, Prof. Dr. Masduki Ahmad, SH., MM., dalam sambutannya menegaskan perlunya dialog akademis untuk menjawab tantangan identitas kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi.

Ketua Umum MUI DKI Jakarta, KH. Muhammad Faiz, menambahkan bahwa Islam selalu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, bahkan dalam kondisi peperangan. “Islam mewajibkan umatnya berlaku baik terhadap tawanan maupun masyarakat sipil,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Syeikh Muhammad Salim Abu ‘Ashi, M.A., Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo, menekankan bahwa Islam tidak boleh dipahami berdasarkan tafsir pribadi tanpa dasar keilmuan. “Pemahaman Islam harus berangkat dari Al-Qur’an dan Hadits, dengan bimbingan ulama yang memiliki kapabilitas ilmiah dan kapasitas moral,” tegasnya.

Ia juga menyoroti isu cinta tanah air yang kerap dianggap bertentangan dengan ukhuwah Islamiyah. Menurutnya, mencintai tanah tumpah darah merupakan fitrah manusia sekaligus bagian dari ajaran Islam. “Cinta tanah air justru mendapat legitimasi dalam fikih dan kaidah ushul fikih,” jelasnya.

Lebih jauh, Syeikh Abu ‘Ashi menjelaskan bahwa keberagaman bangsa, budaya, ras, dan agama adalah kehendak Allah yang harus disikapi dengan semangat lita’arafu (saling mengenal). “Dari pengakuan akan perbedaan lahirlah pemahaman mendalam, sehingga manusia terdorong untuk fastabiqul khairat — berlomba dalam kebaikan dan memberi manfaat bagi kebangsaan serta persaudaraan,” pungkasnya.

Seminar berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab. Hadir pula Sekretaris Daerah DKI Jakarta Marullah Matali, Sekretaris Umum MUI DKI KH. Auzai Mahfuz, Lc., MA., Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyyah Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, SH., LL.M., jajaran pengurus MUI DKI, dosen, mahasiswa UIA, dan PKU.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *