Eskalasi Perang Iran-Israel: Bachtiar Nasir Ingatkan Dampak Serius bagi Ekonomi dan Umrah Indonesia
JAKARTA – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran. Menanggapi situasi tersebut, Ketua Jaringan Alumni Timur Tengah, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), memberikan peringatan keras mengenai dampak domino yang akan menghantam Indonesia, baik dari sisi ekonomi maupun sektor ibadah.

Dalam wawancara eksklusif bersama iNews pada Jumat (28/2), Bachtiar Nasir menyebut bahwa serangan yang melibatkan rudal balistik ini bukan sekadar ketegangan biasa, melainkan akumulasi provokasi panjang yang kini meledak menjadi perang terbuka.
Ancaman Harga BBM dan Ketahanan Energi Menurut Bachtiar, dampak paling instan yang akan dirasakan masyarakat Indonesia adalah lonjakan harga minyak dunia. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital pasokan energi global, menjadi ancaman nyata bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Prioritas utama adalah ketahanan energi kita. Kenaikan harga minyak dunia pasti akan langsung memukul APBN melalui subsidi BBM,” ujar Bachtiar. Ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan diversifikasi pasokan minyak mentah dari wilayah yang lebih stabil, seperti Afrika Barat atau Amerika Latin, guna mengurangi ketergantungan pada jalur Timur Tengah.
Gangguan Penerbangan dan Nasib Jemaah Umrah Selain sektor energi, sektor transportasi udara juga mulai terdampak. Penutupan wilayah udara oleh Iran, Israel, dan Irak telah mengganggu rute penerbangan internasional. Bachtiar menyoroti nasib ribuan jemaah umrah asal Indonesia yang terancam mengalami kendala keberangkatan maupun kepulangan.
“Sangat-sangat berpengaruh. Minimal penerbangan kita ke Timur Tengah soal umrah, itu pasti berpengaruh sangat besar,” tegasnya.
Posisi Politik Luar Negeri Indonesia Di tengah tarikan kepentingan kekuatan besar seperti Rusia yang mendukung militer Iran, serta China sebagai penyeimbang ekonomi, Bachtiar mengingatkan agar pemerintah Indonesia tetap teguh pada prinsip politik “Bebas Aktif”.
Sebagai negara berpenduduk Muslim besar dan kekuatan menengah (middle power), Indonesia diharapkan tidak terjebak dalam polarisasi blok mana pun. “Posisi unik Indonesia sebagai negara Muslim besar yang tidak memihak blok manapun ini penting. Diplomasi melalui PBB harus terus diserukan untuk deeskalasi,” tambahnya.
Langkah Mitigasi dan Perlindungan WNI Menutup keterangannya, Bachtiar Nasir meminta pemerintah untuk tidak meremehkan aspek perlindungan WNI yang berada di zona konflik. Ia mendorong adanya rencana kontingensi evakuasi yang matang jika perang meluas. Selain itu, pemerintah daerah juga diminta bersiap menghadapi inflasi dengan memperkuat ketahanan pangan dan subsidi transportasi guna menjaga daya beli masyarakat di dalam negeri.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Timur Tengah masih mencekam dengan status darurat nasional yang diberlakukan di Israel dan gangguan komunikasi di beberapa wilayah Iran.









