Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita entering al aqsa Kemanusiaan Palestina Kini

28 Hari Masjid Al-Aqsa Ditutup: Ketika Kiblat Pertama Tak Lagi Menggetarkan Hati Umat

Penutupan Masjid Al-Aqsa yang kini telah memasuki hari ke-28 ( sejak 28 Februari 2026, bertepatan dengan eskalasi konflik Israel–Iran ) menjadi cermin getir bagi umat Islam di seluruh dunia. Lebih dari sekadar penutupan fisik, peristiwa ini menyingkap realitas yang lebih dalam: melemahnya ikatan emosional dan spiritual umat terhadap salah satu situs paling suci dalam Islam.

Para jamaah Muslim Palestina melaksanakan shalat di pinggir jalan, karena mereka tidak diizinkan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di tengah pembatasan Israel, di Yerusalem pada 13 Maret 2026 (Ammar Awad/Reuters)

Masjid Al-Aqsa bukan hanya simbol sejarah. Ia adalah kiblat pertama umat Islam, tempat sujud para nabi, sekaligus titik awal perjalanan agung Isra’ Mi’raj Rasulullah ﷺ. Namun hari ini, ketika akses ke sana ditutup tanpa kepastian waktu, reaksi umat justru terasa sunyi. Tidak ada gelombang besar kepedulian. Tidak ada kegelisahan kolektif yang mengguncang dunia Islam.

Pertanyaan mendasarnya sederhana, namun menyakitkan: mengapa umat Islam tidak lagi merasa kehilangan?

Dalam perspektif keimanan, Al-Aqsa adalah amanah. Amanah yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat kepada generasi setelahnya. Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya—ketika amanah itu diinjak, banyak yang memilih diam. Diam yang terlalu lama berpotensi berubah menjadi bentuk pengkhianatan yang tidak disadari.

Sejarah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 20–26 memberikan gambaran yang relevan dengan kondisi saat ini. Ketika umat terdahulu diperintahkan memasuki tanah suci, mereka menolak dengan alasan takut dan merasa lemah. Akibatnya, mereka kehilangan hak atas tanah tersebut selama puluhan tahun.

Narasi itu seakan berulang hari ini. Banyak yang merasa tidak berdaya, memilih menunggu, atau bahkan menyerahkan sepenuhnya isu Al-Aqsa kepada pihak lain. Padahal, kemenangan dalam Islam tidak pernah bergantung pada jumlah, melainkan pada keberanian iman dan kesediaan untuk bertindak.

Di era digital, bentuk perjuangan memang berubah. Tidak semua orang harus berada di medan konflik. Namun setiap individu memiliki peran. Menyebarkan informasi yang benar, membangun kesadaran publik, dan melawan propaganda adalah bagian dari kontribusi nyata yang dapat dilakukan.

Peran ulama, pemimpin, pemuda, hingga jurnalis menjadi sangat krusial. Narasi yang dibangun hari ini akan menentukan arah kesadaran umat di masa depan. Jika narasi lemah, maka kepedulian pun akan ikut melemah.

Bagi umat Islam Indonesia, jumlah yang besar seharusnya menjadi kekuatan, bukan sekadar angka statistik. Solidaritas global tidak bisa dibangun tanpa kesadaran kolektif yang kuat.

Penutupan Masjid Al-Aqsa selama 28 hari ini seharusnya menjadi momentum muhasabah. Bukan hanya tentang konflik di Palestina, tetapi tentang kondisi iman umat itu sendiri.

Jika Al-Aqsa benar-benar bagian dari aqidah, maka kehilangan akses ke sana seharusnya terasa menyakitkan. Jika tidak, mungkin yang perlu dibuka bukan hanya pintu Al-Aqsa—tetapi juga hati umat yang mulai tertutup.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *