Persiapan Bekal 10 Hari Pertama Dzulhijjah: UBN Ajak Umat Islam Maksimalkan Musim Panen Pahala
JAKARTA — Ulama nasional Bachtiar Nasir mengajak umat Islam untuk mempersiapkan diri secara spiritual menyambut sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang disebut sebagai salah satu musim ibadah paling agung dalam Islam.
Dalam khutbah Jum’at bertajuk “Persiapan Bekal 10 Hari Pertama Dzulhijjah”, Pembina AQL Qurban Care itu menegaskan bahwa momentum Dzulhijjah bukan sekadar agenda tahunan menjelang Iduladha, tetapi “bulan panen raya pahala” bagi kaum muslimin.
“Takwa bukan sekadar simbol religius di akhir pekan, tetapi inti sistem kehidupan seorang mukmin. Tanpa takwa, hidup manusia mudah terinfeksi virus syahwat dan penyakit duniawi,” ujar UBN dalam khutbahnya.
Ia menggambarkan takwa sebagai “kernel kehidupan” yang mengontrol seluruh perilaku manusia, baik yang tampak di ruang publik maupun tersembunyi di dalam hati.
Menurutnya, sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana disebut dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2:
“Demi fajar dan malam yang sepuluh.”
UBN menjelaskan, para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menafsirkan “malam yang sepuluh” sebagai sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Bahkan, Rasulullah SAW menyebut amal saleh pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah dibanding hari-hari lainnya.
“Ini adalah momentum langka di mana induk-induk ibadah berkumpul sekaligus: shalat, puasa, sedekah, zikir, haji, dan qurban,” jelas alumnus Universitas Islam Madinah tersebut.
Bekal Spiritual Menyambut Dzulhijjah
Dalam khutbahnya, UBN menekankan beberapa bekal utama yang harus dipersiapkan umat Islam sebelum memasuki Dzulhijjah.
1. Taubat Nasuhah
Menurutnya, dosa menjadi penghalang utama seseorang menikmati manisnya ibadah. Karena itu, umat Islam diajak memperbanyak istigfar dan membersihkan hati dari kezaliman kepada Allah maupun sesama manusia.
2. Memperkuat Niat Ibadah
UBN mengingatkan pentingnya membangun tekad untuk memaksimalkan amal selama 10 hari pertama Dzulhijjah.
“Niat seorang mukmin lebih sampai daripada amalnya,” katanya mengutip perkataan ulama salaf.
3. Memperbanyak Zikir dan Takbir
Ia juga mengajak umat Islam menghidupkan rumah-rumah dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil sebagaimana tradisi para sahabat Nabi.
“Jangan biarkan Dzulhijjah berlalu tanpa gema takbir di rumah dan keluarga kita,” ujarnya.
Puasa Arafah dan Qurban Terbaik
UBN turut mengingatkan keutamaan puasa Arafah yang jatuh pada 9 Dzulhijjah. Rasulullah SAW menjanjikan penghapusan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi mereka yang berpuasa di hari tersebut.
Selain itu, ia mendorong kaum muslimin memilih hewan qurban terbaik sebagai bentuk pengagungan syiar Allah.
“Jangan mencari yang paling murah, tetapi carilah yang paling sehat dan terbaik sebagai bentuk cinta kepada Allah,” katanya.
Ia juga mengingatkan sunnah bagi orang yang hendak berqurban agar tidak memotong rambut dan kuku sejak masuk 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih.
Dzulhijjah Momentum Penyembelihan Ego
Dalam khutbah tersebut, UBN menegaskan bahwa makna terdalam qurban adalah penyembelihan ego dan keterikatan duniawi, sebagaimana keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
“Qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan rasa memiliki yang melampaui batas,” tuturnya.
Ia mengajak umat Islam menjadikan Dzulhijjah sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat keluarga dengan ibadah bersama, serta menjaga lisan dari gibah dan perkataan sia-sia.
“Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan amal, tetapi lupa menjaga api maksiat yang bisa membakar seluruh pahala,” pungkasnya. ( Sumber : Khutbah Jum’at Ustadz Bachtiar Nasir )









