Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita Opini Tokoh

Surat Al-Hajj dan Seruan Jurnalisme Peradaban: UBN Sebut Jurnalis Muslim Adalah “Muadzin Zaman”

Jakarta, Ahadtimes.id, Ustadz Bachtiar Nasir atau UBN mengangkat makna mendalam dari Surat Al-Hajj ayat 27 sebagai landasan spiritual bagi para jurnalis muslim dalam menjalankan tugas jurnalistik di era modern.

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ

(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. 22 : 27 )

UBN mengutip pada awal ayat tersebut “wa adzdzin fin-nâsi..” yakni menyeru manusia untuk mendatangi Baitullah ( Rumah Allah ).

Dalam pertemuan bersama insan media muslim, UBN menegaskan bahwa jurnalis bukan sekadar penyampai informasi, tetapi penyeru peradaban yang memiliki tugas menyeru manusia kepada kebenaran sebagaimana Nabi Ibrahim AS menyeru umat manusia untuk berhaji.

“Seorang jurnalis muslim sebetulnya statusnya muadzin. Tapi muadzin zaman, muadzin peradaban,” ujar UBN.

Menurutnya, spirit Surat Al-Hajj ayat 27 mengandung filosofi besar tentang keberanian menyeru manusia meski dengan segala keterbatasan.

Spirit Nabi Ibrahim dalam Dunia Media

UBN menjelaskan bahwa ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS menyeru manusia untuk berhaji, secara logika seruan itu tampak mustahil terdengar luas dari tengah padang pasir. Namun Allah sendiri yang kemudian menyampaikan seruan itu ke hati manusia.

Ia menilai spirit inilah yang harus dimiliki media Islam hari ini.

“Kalau suaramu benar, kalau tulisanmu bagus, walaupun kamu di padang pasir, orang akan datang mencari,” katanya.

UBN menekankan bahwa kekuatan media bukan semata teknologi atau algoritma, tetapi nilai kebenaran yang dikandungnya.

Kritik terhadap Media yang “Menuhankan” Viralitas

Dalam penyampaiannya, UBN mengkritik media modern yang dinilai terlalu mengejar sensasi dan popularitas.

“Persoalan kita itu terlalu menuhankan algoritma, viralitas,” ujarnya.

Menurutnya, banyak media hari ini lebih sibuk mengejar klik dibanding membangun kesadaran publik. Padahal media seharusnya menjadi ruang dakwah yang menghadirkan keamanan, keadilan, dan kebenaran bagi masyarakat.

UBN bahkan menyebut media ideal semestinya menjadi seperti “Ka’bah peradaban”, tempat manusia datang mencari petunjuk dan ketenangan.

Jurnalis Muslim Harus Menjadikan Kebenaran sebagai Kiblat

Dalam pandangannya, jurnalis muslim wajib menjadikan kebenaran sebagai arah editorial, bukan kepentingan politik ataupun tekanan modal.

“Jurnalis muslim harus menjadikan kebenaran sebagai kiblat editorialnya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar media tidak menjadi alat propaganda kelompok yang justru memperkeruh persatuan umat Islam.

Menurut UBN, jurnalisme Islam harus menjadi pemersatu dan menghadirkan keadilan dalam setiap framing pemberitaan.

Menjaga Kesucian Bahasa dalam Media

Selain soal keberpihakan terhadap kebenaran, UBN juga menyoroti pentingnya menjaga bahasa jurnalistik.

Ia mengingatkan bahwa media dapat menjadi alat penyelamat peradaban, tetapi juga bisa menghancurkan karakter manusia bila digunakan tanpa etika.

“Bahasa jurnalistik bukan alat informasi, tetapi alat membentuk kesadaran,” katanya.

UBN mengkritik praktik media yang mengeksploitasi aib dan keburukan seseorang demi kepentingan sensasi serta trafik digital.

Shalat Subuh dan Integritas Jurnalis

Dalam suasana reflektif, UBN turut menyinggung pentingnya spiritualitas seorang jurnalis. Menurutnya, kualitas tulisan sangat berkaitan dengan kualitas ibadah seseorang.

Ia bahkan menyebut jurnalis yang menjaga shalat berjamaah akan memiliki sensitivitas moral yang berbeda dalam memproduksi karya jurnalistik.

“Beda tulisan orang suka shalat jamaah dengan orang yang tidak,” ujarnya.

Melalui pesan Surat Al-Hajj, UBN berharap lahir generasi jurnalis muslim yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berani menyampaikan kebenaran di tengah derasnya arus propaganda informasi.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *