Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita

JIC Gelar Kajian Remaja Akbar: Koh Denis, Koh Dondy, dan Pasha Ungu Ajak Remaja Perkuat Tauhid di Era Digital

Jakarta — Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ) atau Jakarta Islamic Centre (JIC) menggelar Kajian Remaja Akbar bertema “The Journey of Tauhid: Menjadi Remaja Hebat Aqidah Kuat” di Ruang Convention Hall JIC, Jakarta Utara, Selasa (25/11/2025). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–11.30 WIB ini menghadirkan tiga pembicara utama: Koh Denis Lim, Koh Dondy Tan, dan anggota DPR RI Sigit Purnomo S.AP., S.H. (Pasha Ungu). Acara diikuti ratusan remaja dari berbagai sekolah dan komunitas.

Anggota DPR RI Sigit Purnomo S.AP., S.H. (Pasha Ungu)

Digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat aqidah dan karakter generasi muda, kajian ini menyoroti pentingnya keteguhan iman di tengah derasnya tantangan era digital dan arus informasi global.

Kepala JIC, KH Muhyiddin Ishaq, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap gaya penyampaian para narasumber yang dinilai lugas dan relevan. Ia secara khusus menyoroti pemaparan Koh Dondy Tan yang dinilainya tepat dalam menjelaskan konsep “mujadalah”.

“Bahasanya lugas betul. Saya bilang diskusi, tapi beliau bilang debat. Dan memang mujadalah itu debat. Jadi Koh Dondy lebih betul dari saya,” ujarnya.

Kepala JIC, KH Muhyiddin Ishaq

8Kiai Muhyiddin mengaku tertarik dengan kajian lintas agama yang disampaikan narasumber dan hadir untuk menimba ilmu lebih dalam.

“Banyak hal yang saya enggak tahu, terutama soal Injil, Bibel, dan Taurat. Saya punya dasar Kristologi sejak tahun 1978, tapi setelah itu hilang. Makanya saya mau belajar lagi sama Koh Dondy,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten Kesejahteraan Rakyat Pemprov DKI Jakarta, Dr. H. Ali Maulana Hakim, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa keteguhan aqidah menjadi fondasi penting dalam menghadapi globalisasi. Ia menjelaskan bahwa Jakarta kini mengusung visi sebagai kota global sesuai UU Nomor 2 Tahun 2024.

“Kota global itu berarti kota yang sangat terbuka. Karena itu pemahaman tauhid jadi sangat penting agar anak-anak kita tetap teguh,” ujarnya.

Ali juga menyoroti berbagai fenomena sosial yang memprihatinkan, mulai dari tawuran, narkoba, perilaku seks bebas, hingga lunturnya adab remaja. Ia mengingatkan bahwa pembinaan karakter tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.

“Membentuk karakter seorang anak itu butuh orang sekampung. Semua terlibat,” tegasnya.

Salah satu narasumber, Koh Denis Lim, membagikan kisah hijrahnya dari kehidupan kelam sebagai bandar kasino. Ia mengungkapkan titik balik hidupnya terjadi setelah mendengar ceramah tentang rezeki.

“Kayak digampar asli,” tuturnya.

Ia kemudian memutuskan menjadi santri di Daarut Tauhiid dan kini melanjutkan studi Ekonomi Syariah.

Sementara itu, Pasha Ungu menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Ia menyebut program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah penting pemerintah dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda.

“Kalau makan bergizi, maka kita akan jadi manusia yang penuh gizi. Kalau tidak, maka dia akan stunting,” katanya.

Narasumber lainnya, Koh Dondy Tan, mengangkat isu perang pemikiran terhadap umat Islam. Ia menilai pemurtadan masih terjadi melalui berbagai metode, termasuk memanfaatkan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena itu ia mengembangkan konsep “Krislamologi”, yakni pendekatan yang menggabungkan Kristologi dan Islamologi.

“Supaya ketika Islam diserang, kita bisa menjawab dan melakukan counter-attack secara ilmiah,” jelasnya.

Acara ditutup dengan ajakan kepada seluruh remaja yang hadir untuk memperkuat tauhid dan meningkatkan pemahaman agama sebagai bekal menghadapi tantangan zaman. Pihak JIC menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program edukatif bagi generasi muda Jakarta.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *