Tiga Tahun Genosida Gaza, UBN Soroti “Batas antara Manusia dan Monyet”
JAKARTA — Tiga tahun tragedi kemanusiaan di Gaza menjadi momentum bagi Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) untuk mengajak umat Islam kembali merenungkan makna kemanusiaan, keteguhan iman, dan bahaya penyakit al-wahan.
Pesan besar ini akan disampaikan pada 7 Oktober 2026, di MAJELIS TADABBUR & HIDAYAH QUR’AN, MAQDISI AQL (Jl. Tebet Utara I No. 40, Jakarta Selatan) pukul 09.00 – 18.00 WIB, mengangkat tema “3 Tahun Genosida Gaza: Batas antara Manusia dan Monyet”. Ia menggunakan diksi “monyet” dalam Al-Qur’an sebagai refleksi moral terhadap manusia yang melampaui batas kemanusiaan.

UBN mengawali pesannya dengan merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai manusia yang melampaui batas. Ia menyebut Surah Al-Baqarah ayat 65 dan Surah Al-A’raf ayat 166 dalam konteks kisah manusia yang mendapat hukuman berupa perubahan menjadi kera.
“Inilah batas antara manusia dengan monyet.”
Menurut UBN, kisah tersebut menjadi gambaran tentang batas moral antara manusia yang masih menjaga kemanusiaannya dengan manusia yang telah dikuasai oleh “mental monyet”, sebagaimana istilah yang digunakannya dalam pesan tersebut.
UBN Pertanyakan Sikap Diam terhadap Kezaliman
Tidak berhenti pada persoalan Gaza, UBN kemudian mengarahkan refleksinya kepada umat yang menyaksikan tragedi kemanusiaan tetapi memilih diam.
“Lalu bagaimana dengan kita yang diam? Akankah kita seperti syetan bisu?” ujar UBN.
Ia menyebut “syetan bisu” sebagai gambaran orang yang diam terhadap kemungkaran dan kebatilan. Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata mengenai kemampuan seseorang untuk bertindak, tetapi juga keberanian moral untuk tidak menyerah terhadap keadaan.
UBN kemudian mengingatkan adanya kondisi yang disebutnya sebagai lemah hati. Ia membedakan antara kelemahan fisik manusia dengan kelemahan hati.
“Lemah itu tidak hina karena manusia diciptakan dalam badan lemah. Tetapi lemah hati ini yang Allah tidak suka,” katanya.
Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan istilah al-wahan, yang dalam pesan itu dijelaskan berkaitan dengan kecintaan berlebihan terhadap dunia dan ketakutan terhadap kematian.
Seruan untuk Bangkit dari Al-Wahan
Di bagian akhir pesannya, UBN menyerukan agar umat tidak larut dalam kelemahan hati. Ia mengajak umat untuk kembali menyadari tanggung jawab moral dan menjaga kemanusiaan serta iman.
“Ya, umat ini sudah terserang penyakit. Hubun dunia, cinta dunia dan takut mati. Mari kita bangkit, mari kita sadar agar kemanusiaan kita tetap utuh di dalam jiwa kita,” serunya.
Menurutnya, kesadaran tersebut penting agar iman tetap terjaga dan umat tidak terpapar penyakit al-wahan.
Pesan UBN kemudian ditutup dengan kembali menegaskan tema refleksinya: tiga tahun tragedi di Gaza sebagai momentum untuk mempertanyakan kembali batas kemanusiaan dan menjaga agar manusia tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Bersama narasumber lainnya seperti : Ust. Ridwan Hakim, Ust. Husein Gaza, Amar Ar-Risalah, As’ad Arasy, acara ini juga dirangkaikan dengan Pelepasan & Pemberangkatan Tim Kemanusiaan serta Pengiriman Bantuan langsung menuju koridor Yordania dan Mesir untuk menyasar kawasan Gaza.
Informasi & Konfirmasi Kehadiran:
* WhatsApp: 0851-8305-7373
* Website: www.bachtiarnasir.com | www.aql.or.id
* Social Media: AQL Islamic Center / MAQDISI









