5 Mitos Seputar Kurban yang Masih Dipercaya Masyarakat, Bachtiar Nasir: Jangan Salah Paham
JAKARTA — Ibadah kurban merupakan salah satu syariat penting dalam Islam yang sarat makna spiritual dan sosial. Namun di tengah masyarakat, masih banyak beredar pemahaman keliru atau mitos yang membuat sebagian orang ragu dalam menjalankannya.
Pembina AQL Qurban Care, Bachtiar Nasir, menegaskan pentingnya meluruskan pemahaman masyarakat agar ibadah kurban dilakukan sesuai tuntunan syariat.

“Ibadah kurban bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi syariat yang memiliki akar tauhid sangat dalam,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
UBN kemudian menjelaskan sejumlah mitos yang kerap berkembang di masyarakat beserta fakta hukumnya dalam Islam.
Kurban Bukan Hanya untuk Orang Kaya
Menurutnya, salah satu anggapan yang paling sering muncul adalah bahwa kurban hanya diperuntukkan bagi orang kaya.
Padahal, syariat menetapkan kurban bagi siapa saja yang memiliki kemampuan, dan ukuran mampu bersifat relatif.
“Banyak masyarakat dengan penghasilan sederhana tetap bisa berkurban melalui tabungan atau patungan,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam syariat Islam, satu ekor sapi bahkan diperbolehkan untuk tujuh orang, sehingga peluang berkurban terbuka lebih luas bagi umat Muslim.
Harga Hewan Tidak Menjamin Diterima Allah
Mitos berikutnya adalah anggapan bahwa semakin mahal harga hewan kurban maka semakin besar peluang diterima Allah SWT.
Menurut UBN, Islam justru menekankan ketakwaan dan keikhlasan sebagai inti ibadah kurban.
Ia mengutip firman Allah yang menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging hewan, melainkan ketakwaan pelakunya.
“Hewan yang baik memang dianjurkan, tetapi tanpa keikhlasan nilainya bisa kosong,” jelasnya.
Kurban Tidak Bisa Diganti Membeli Daging di Pasar
Ia juga meluruskan anggapan bahwa kurban dapat diganti dengan membeli daging di pasar lalu dibagikan kepada masyarakat.
Menurutnya, kurban adalah ibadah khusus yang memiliki tata cara tertentu, termasuk proses penyembelihan hewan.
“Membeli daging tanpa ada proses sembelih tidak memenuhi hakikat ibadah kurban,” tegasnya.
UBN menjelaskan bahwa kurban berbeda dengan sedekah biasa karena memiliki syariat dan bentuk ibadah yang telah ditentukan.
Pekurban Justru Dianjurkan Makan Daging Kurban
Selain itu, ia juga menepis anggapan bahwa orang yang berkurban tidak boleh memakan daging kurbannya sendiri.
Dalam Islam, kata dia, pekurban justru dianjurkan memakan sebagian daging kurban sebagai bentuk keseimbangan antara ibadah pribadi dan kepedulian sosial.
Namun demikian, terdapat pengecualian pada kurban wajib seperti hewan nazar atau dam bagi jamaah haji tamattu’ dan qiran.
“Dalam mazhab Syafi’i, untuk kurban wajib, pekurban tidak boleh memakan dagingnya sama sekali,” ujarnya.
Kurban Bukan Sekadar Tradisi Tahunan
UBN juga mengingatkan bahwa kurban bukan hanya rutinitas tahunan tanpa makna.
Menurutnya, ibadah ini merupakan simbol ketaatan dan keikhlasan yang meneladani pengorbanan Ibrahim dan Ismail.
Ia menilai kesalahan memahami kurban dapat mengurangi nilai ibadah itu sendiri.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk merujuk pada sumber ilmu yang benar dan penjelasan para ulama terpercaya.
“Pada akhirnya, kurban bukan tentang mengikuti kebiasaan masyarakat, tetapi mengikuti tuntunan syariat,” tutupnya.
============
🐄 AQL Qurban Care: Kurban Terbaik, Manfaat Terluas
Tunaikan kurban Anda bersama AQL Qurban Care: amanah, tepat sasaran, dan penuh keberkahan.
📲 WA: 0857 1873 5254
📸 IG: @aql.qurbancare
🌐 www.qurbancare.org









