Bachtiar Nasir: Ruh Kurban Harus Tetap Hidup Setelah Iduladha
JAKARTA — Ibadah kurban tidak seharusnya berhenti sebagai ritual tahunan yang selesai setelah Hari Raya Iduladha berlalu. Lebih dari itu, kurban merupakan awal dari perjalanan panjang seorang hamba dalam menjaga keikhlasan, ketakwaan, dan semangat pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan Pembina AQL Qurban Care, Bachtiar Nasir, dalam refleksinya mengenai makna kurban pasca-Iduladha.
Menurutnya, inti ibadah kurban bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan perubahan hati yang lahir setelah menjalankannya.
“Setelah Iduladha berlalu, pertanyaan pentingnya adalah apakah semangat pengorbanan itu ikut berlalu atau justru terus hidup dalam keseharian kita,” ujarnya.

UBN mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari pelakunya.
Ayat tersebut, kata dia, menjadi pengingat bahwa esensi kurban terletak pada kualitas hati berupa keikhlasan, ketaatan, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
“Maka yang harus dijaga setelah kurban bukan sekadar kenangan ibadahnya, tetapi ruh pengorbanannya,” katanya.
Ia menjelaskan, semangat kurban sejatinya adalah kesiapan seorang Muslim untuk memberi, berkorban, dan mendahulukan Allah di atas kepentingan pribadi.
Nilai tersebut, lanjutnya, dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap ringan bersedekah, menjaga keikhlasan dalam amal, serta rela mengorbankan waktu, tenaga, dan harta di jalan kebaikan.
UBN juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa amalan paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.
Menurut penjelasan An-Nawawi, kontinuitas amal akan menjaga ketaatan, zikir, keikhlasan, serta kesungguhan hati dalam mendekat kepada Allah.
“Amalan kecil tetapi berkelanjutan bisa bernilai jauh lebih besar dibanding amal besar yang terputus-putus,” jelasnya.
Karena itu, ia menilai ruh kurban harus diwujudkan dalam kesinambungan amal, bukan hanya semangat sesaat di musim Iduladha.
Selain itu, semangat berbagi kepada sesama yang dilatih saat pembagian daging kurban juga perlu terus dijaga dalam kehidupan sosial sehari-hari.
“Qurban mengajarkan bahwa harta bukan untuk ditahan, tetapi untuk dialirkan,” ujarnya.
Lebih jauh, kurban juga menjadi latihan spiritual untuk melepaskan keterikatan terhadap dunia dan menundukkan hawa nafsu demi meraih rida Allah.
UBN menegaskan, tanda diterimanya ibadah kurban bukan hanya terlihat dari prosesi penyembelihan, tetapi dari perubahan sikap setelahnya.
“Jika setelah qurban seseorang menjadi lebih ikhlas, lebih dermawan, dan lebih dekat kepada Allah, maka itu tanda bahwa qurbannya benar-benar diterima,” tutupnya.









