UBN Soroti Gejolak Timur Tengah: Selat Hormuz Jadi Kunci, “NATO Muslim” Disebut Muncul Sebagai Penyeimbang Baru
Ahadtimes.id, JAKARTA — Pembina AQL dan tokoh nasional, Bachtiar Nasir atau yang akrab disapa UBN, menyoroti memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah menyusul konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini dinilai masih berada dalam kondisi “gencatan senjata rapuh”.
Dalam wawancara di program Breaking News TV One, pada Senin, 11/5/3026, UBN menyebut konflik terbaru di kawasan Teluk tidak lagi sekadar perang terbuka, melainkan telah berubah menjadi benturan sporadis yang berpotensi mengguncang ekonomi global, termasuk Indonesia.

Menurutnya, akar utama konflik saat ini berada di perebutan pengaruh dan kontrol atas Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dunia.
“Di satu sisi mereka berbicara ceasefire, tetapi di sisi lain tetap saling menyerang. Situasinya sangat rapuh dan titik utamanya adalah Hormuz,” ujar UBN.
UBN menjelaskan, Amerika Serikat menginginkan Selat Hormuz tetap terbuka demi kepentingan sekutu dan distribusi energi global, sementara Iran mengklaim penguasaan penuh atas wilayah tersebut dan menolak campur tangan asing.
Akibat ketegangan itu, lalu lintas kapal tanker dan kargo di kawasan Teluk Persia disebut mengalami gangguan serius. Bahkan, sejumlah kapal dilaporkan diserang maupun dicegat di sekitar perairan strategis tersebut.
Negara Teluk Mulai Terbelah
Dalam pandangannya, negara-negara Teluk kini mulai menunjukkan arah politik yang berbeda-beda. Uni Emirat Arab disebut masih berada di kubu Amerika Serikat karena faktor ketergantungan ekonomi dan keamanan.
Sementara Oman dan Qatar dinilai lebih memilih menjaga hubungan baik dengan Iran demi stabilitas kawasan dan kepentingan energi.
UBN juga menilai China kini menjadi pemain penting dalam dinamika Timur Tengah. Menurutnya, baik Iran maupun Amerika Serikat mulai mempertimbangkan Beijing sebagai pusat negosiasi baru karena kekuatan ekonomi dan kebutuhan energi China yang besar terhadap minyak Timur Tengah.
“Dunia sekarang sedang di-reset. Tidak ada lagi kekuatan dominan tunggal. Negara-negara mulai membentuk blok-blok baru,” katanya.
UBN Sebut Muncul Wacana “NATO Muslim”
Salah satu poin yang paling disorot UBN adalah munculnya wacana pembentukan “Islamic NATO” atau NATO versi negara-negara Muslim.
Menurutnya, gagasan tersebut mulai berkembang sejak 2025 dan melibatkan beberapa negara besar seperti Arab Saudi, Pakistan, Turki, dan Mesir.
UBN menyebut embrio kekuatan itu sebenarnya telah dimulai melalui pembentukan Islamic Military Counter Terrorism Coalition yang berdiri sejak 2015 di Riyadh.
Namun kali ini, arah pembahasannya dinilai lebih luas, bukan hanya anti-terorisme, melainkan menuju koalisi pertahanan strategis antarnegara Muslim.
Pakistan disebut memiliki kekuatan nuklir, Turki unggul dalam teknologi drone dan industri pertahanan, Mesir mempunyai kekuatan militer besar di kawasan Arab, sementara Arab Saudi menjadi kekuatan ekonomi dan energi utama.
“Kalau klausul serangan terhadap satu negara dianggap serangan terhadap semua benar-benar diterapkan, maka ini akan menjadi keseimbangan baru dunia,” ujar UBN.
Ia menilai koalisi tersebut dapat menjadi penyeimbang terhadap pengaruh Iran, Israel, maupun dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah.
Dampak Konflik Sudah Terasa ke Indonesia
UBN mengingatkan bahwa perang regional di Timur Tengah saat ini sudah berdampak langsung terhadap rantai pasok global, termasuk Indonesia.
Menurutnya, terganggunya distribusi energi dan logistik akibat konflik di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga minyak, pasokan barang, hingga stabilitas ekonomi nasional.
Ia pun berharap Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif serta mampu mengambil peran strategis di tengah dinamika baru dunia Islam dan geopolitik global.
“Indonesia punya peluang besar menjadi mediator dan bagian penting dalam kekuatan dunia Islam ke depan,” tutupnya.









