Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Greta Thunberg diculik oleh IDF
Berita Dunia Kemanusiaan Palestina Kini

Global Sumud Flotilla: 497 Aktivis Diculik Israel, Dunia Melawan Blokade Gaza

Zona Merah Laut Gaza – Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang berangkat untuk menembus blokade Gaza berubah menjadi krisis global setelah Israel mencegat armada kapal di laut internasional pada 1–2 Oktober 2025. Sebanyak 497 aktivis internasional dari 46 negara, termasuk tokoh muda dunia Greta Thunberg dan cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, kini ditahan oleh otoritas Israel.

Greta Thunberg diculik oleh IDF
Armada Sumud Global yang membawa Greta Thunberg ( mengenakan topi katah hijau kesayangannya ) diculik oleh militer Israel sebelum mencapai Gaza.

Armada Dicegat, Aktivis Diculik

Pada 1 Oktober pagi, armada yang terdiri dari 50 kapal dengan lebih dari 500 aktivis memasuki zona berisiko sekitar 120 mil dari Gaza. Sejumlah drone dan kapal tak dikenal mulai memantau pergerakan mereka.

Namun pada malam harinya, kapal Alma, Sirius, dan Adara dicegat oleh angkatan laut Israel. Siaran langsung yang sempat dipancarkan dari kapal tersebut tiba-tiba terputus. Insiden lain juga terjadi ketika kapal Mikeno disemprot meriam air, sementara kapal Florida ditabrak, menyebabkan belasan kapal mengalami keadaan darurat.

Hingga 2 Oktober, tercatat 14 kapal dalam kondisi darurat dan 8 kapal diserang langsung. Hampir seluruh awak dan aktivis berhasil ditangkap, sehingga total 497 orang kini berada dalam tahanan Israel.

Kondisi Armada Global Sumud Flotilla di Zona Merah
Kondisi Armada Global Sumud Flotilla Berada di Zona Merah, Sumber : magic.mapim.dev/sumudnusantara

Klaim Israel dan Bantahan Panitia

Pemerintah Israel menuduh misi flotilla tersebut memiliki keterkaitan dengan Palestinian Committee for the Protection of Al-Aqsa (PCPA) dan menyebutnya sebagai “provokasi politik yang berkedok kemanusiaan”.

Namun panitia Global Sumud Flotilla membantah keras tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa misi ini murni kemanusiaan, dengan tujuan mengirimkan bantuan medis, pangan, dan logistik untuk rakyat Gaza yang sudah 18 tahun hidup dalam blokade Israel.

Gelombang Protes Internasional

Penahanan ratusan aktivis memicu reaksi keras dari berbagai negara.

  • Eropa: Aksi protes besar terjadi di Paris, Berlin, dan Brussels. Di Italia, serikat pekerja pelabuhan Genoa melakukan mogok nasional sebagai bentuk solidaritas.

  • Spanyol: Perdana Menteri Pedro Sánchez secara terbuka mengecam blokade Israel dan menyebut aksi militer terhadap flotilla sebagai pelanggaran hukum internasional.

  • Kolombia: Presiden Gustavo Petro mengambil langkah drastis dengan mengusir diplomat Israel dari Bogotá dan membatalkan perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Tel Aviv.

  • Timur Tengah & Afrika Utara: Ribuan massa turun ke jalan di Istanbul, Ankara, Tunis, dan Athena, menuntut Israel membebaskan para aktivis.

  • Negara lain: Pemerintah Meksiko, Australia, dan Irlandia mendesak Israel memberi perlindungan bagi warga negaranya yang ikut serta dalam misi tersebut.

Krisis Global yang Membesar

Insiden flotilla ini kini menjelma menjadi krisis internasional. Tidak hanya soal penahanan aktivis, tetapi juga terkait masa depan misi kemanusiaan untuk Gaza. Bantuan yang seharusnya dikirim tertunda, sementara ketegangan diplomatik antara Israel dan sejumlah negara kian meningkat.

“Ini bukan sekadar serangan terhadap kapal bantuan, tapi juga serangan terhadap nilai kemanusiaan universal,” ujar salah satu juru bicara panitia GSF dalam pernyataan resminya.

Solidaritas Menguat

Seiring meluasnya protes di berbagai belahan dunia, sorotan kembali tertuju pada blokade Israel di Gaza yang telah berlangsung hampir dua dekade. Organisasi kemanusiaan internasional menilai, aksi Israel terhadap Global Sumud Flotilla hanya akan memperbesar simpati dunia terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang turut mengirimkan tim dalam misi ini menegaskan akan terus memantau perkembangan, sekaligus mendesak pemerintah Indonesia dan PBB untuk menekan Israel agar membebaskan seluruh aktivis yang ditahan.

Apa yang dimulai sebagai misi kemanusiaan kini telah berubah menjadi episentrum solidaritas global. Dengan hampir 500 aktivis masih berada dalam tahanan Israel, tekanan internasional diperkirakan akan semakin kuat dalam beberapa hari ke depan.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *