Kajian DDII Bekasi: Palestina Disebut Jantung Geopolitik Dunia, Umat Diminta Melek Strategi Global
Bekasi, 12 April 2026 – Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Bekasi menggelar Kajian Sehari Bersama Dewan Dakwah (SBDD) bertema “Palestina: Jantung Geopolitik Dunia dan Ujian Persatuan Umat Islam di Era Modern” di Masjid Al Muslimun, Kota Bekasi, Jawa Barat, Ahad (12/4/2026).
Kegiatan yang diikuti ratusan jemaah ini juga dirangkaikan dengan silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah. Hadir sebagai narasumber Direktur Baitul Maqdis Institut Ustaz Fahmi Salim dan pengamat Timur Tengah Ustaz Farid Okbah.
Ketua DDII Kota Bekasi, Ustaz Salimin Dani, dalam sambutannya menegaskan pentingnya edukasi geopolitik bagi umat Islam agar tidak bersikap pasif terhadap konflik global yang melibatkan dunia Islam.
“Kita ingin umat memiliki pemahaman dan sense of crisis. Jangan sampai ketika terjadi pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, umat justru tidak berpihak,” ujar Salimin.

Ia juga mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menyikapi berbagai narasi global, terutama yang dipengaruhi oleh kepentingan kekuatan besar dunia.
Dalam pemaparannya, Ustaz Fahmi Salim menjelaskan bagaimana Iran dipandang dalam perspektif Israel. Ia menyebut terdapat dua wajah Iran dalam imajinasi Israel, yakni sebagai pihak yang pernah berjasa dalam sejarah Yahudi dan sekaligus sebagai ancaman besar.
“Iran dipandang sebagai penyelamat dalam sejarah melalui sosok Raja Cyrus, tetapi juga dianggap sebagai ancaman seperti figur Haman dalam narasi keagamaan mereka,” jelas Fahmi.

Ia turut mengulas relevansi Surat Ar-Rum dalam konteks geopolitik modern. Menurutnya, ayat tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan kekuatan global, bukan sekadar keberpihakan ideologis.
“Dukungan terhadap suatu pihak tidak selalu berarti menyetujui akidahnya, tetapi bisa dalam rangka menjaga keseimbangan kekuatan,” ujarnya.
Fahmi menambahkan, dalam konteks kekinian umat Islam perlu bersikap strategis. Dukungan terhadap Iran dalam isu Palestina, menurutnya, dapat dilihat dari sisi geopolitik tanpa harus mengadopsi ideologi atau pandangan keagamaannya.
“Ini soal memetakan prioritas dan dampak yang lebih besar, namun tetap perlu kewaspadaan agar tidak terjadi pergeseran akidah,” katanya.
Sementara itu, pembicara kedua Ustaz Farid Okbah menyoroti ambisi politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam membentuk ulang peta kekuatan global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
Menurut Farid, Trump memiliki dua agenda besar yang saling berkaitan. Pertama adalah Make America Great Again (MAGA), yaitu upaya mengembalikan dominasi Amerika Serikat sebagai kekuatan utama dunia.
“Trump ingin menjadikan Amerika seperti perusahaan besar dengan dirinya sebagai pengendali utama,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyebut adanya agenda lain yang disebut sebagai Make Iran Great Again (MIGA), yang dinilai bertujuan mengubah arah kekuasaan di Iran agar lebih selaras dengan kepentingan Amerika.
Farid menilai ambisi tersebut erat kaitannya dengan kepentingan ekonomi, terutama penguasaan sumber daya energi di kawasan Timur Tengah. Ia juga mengaitkannya dengan kepentingan strategis Israel yang memiliki kesamaan arah dengan Amerika dalam menghadapi Iran.
“Targetnya adalah melemahkan Iran sebagai kekuatan regional, sekaligus memastikan kawasan tetap berada dalam kendali kepentingan Barat,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan tidak selalu bersifat langsung, melainkan juga melalui strategi tidak langsung seperti dukungan terhadap aktor-aktor proksi di berbagai negara konflik.
Kajian ini diharapkan mampu meningkatkan literasi geopolitik umat Islam serta memperkuat persatuan dalam menyikapi berbagai isu global, khususnya yang berkaitan dengan Palestina dan dunia Islam secara luas.









