Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita event Tokoh

MUI dan Parlemen Gelar Konferensi Internasional, Serukan Persatuan Global Lawan Ketidakadilan dan Bangun Perdamaian Dunia

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia bersama Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia menggelar konferensi internasional bertajuk “Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia” dalam rangka memperingati International Day for Dialogue Among Civilizations, Rabu (10/6), di Gedung Nusantara V.

Forum internasional tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan internasional, di antaranya Hidayat Nur Wahid, Anwar Abbas, Din Syamsuddin, Anis Matta, serta sekitar 35 duta besar negara sahabat.

Majelis Ulama Indonesia bersama Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia menggelar konferensi internasional bertajuk “Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia” dalam rangka memperingati International Day for Dialogue Among Civilizations, Rabu (10/6), di Gedung Nusantara V. ( Dokumentasi akun Facebook Ustadz Zaitun Rasmin )

Turut hadir Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah MUI sekaligus Ketua Umum Wahdah Islamiyah, Muhammad Zaitun Rasmin. Dalam keterangannya, ia menegaskan pentingnya dialog antarperadaban sebagai langkah strategis dalam menghadapi konflik global dan melawan berbagai bentuk ketidakadilan internasional.

Menurut Ustaz Zaitun, Indonesia memiliki posisi penting dalam memperkuat ukhuwah global, baik ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah maupun ukhuwah basyariyah. Ia menilai forum dialog lintas negara dan lintas agama seperti ini menjadi sarana efektif untuk menggalang kekuatan moral dunia dalam menghadapi hegemoni kekuasaan yang dinilai merugikan kemanusiaan.

“Indonesia memiliki posisi yang strategis dalam memperkuat ukhuwah global—baik Islamiyah, wathaniyah, maupun basyariyah. Forum seperti ini sangat penting untuk menggalang kekuatan moral dunia dalam melawan hegemoni kekuasaan yang zalim,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa perdamaian dunia hanya dapat terwujud apabila masyarakat internasional bersatu dalam memperjuangkan keadilan dan menolak segala bentuk penindasan.

MUI Soroti Krisis Kemanusiaan di Gaza dan Timur Tengah

Pada kesempatan yang sama, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan respons terhadap berbagai krisis global yang tengah terjadi, termasuk konflik di Timur Tengah dan tragedi kemanusiaan di Gaza.

Menurutnya, situasi yang terjadi di Gaza menjadi gambaran nyata melemahnya nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban dunia. Karena itu, diperlukan kerja sama yang lebih kuat antara masyarakat sipil lintas negara dan lintas agama untuk memperjuangkan perdamaian dan keadilan global.

“Yang terjadi di Gaza dan Timur Tengah adalah potret nyata runtuhnya nilai-nilai peradaban. MUI menilai penting untuk menggaungkan kembali semangat kemanusiaan dan mendorong penguatan kerja sama antar masyarakat sipil lintas negara dan agama,” ujarnya.

Anis Matta: Dunia Sedang Memasuki Fase Transisi Besar

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, menekankan pentingnya peran Indonesia dalam membangun diplomasi berbasis nilai di tengah perubahan tatanan global.

Ia menilai dunia saat ini tengah berada dalam masa transisi besar, di mana sistem lama mulai mengalami kemunduran sementara tatanan baru belum terbentuk secara utuh. Dalam situasi tersebut, konflik global menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

Menurut Anis Matta, terdapat lima pilar utama yang membangun sebuah peradaban, yakni agama sebagai sumber nilai, demokrasi sebagai mekanisme kolektif, kemakmuran sebagai tujuan, sains sebagai instrumen pengelolaan kehidupan, dan seni sebagai ekspresi keindahan.

Ia menegaskan bahwa dunia membutuhkan platform peradaban baru yang lebih adil, kolaboratif, serta mampu menyatukan umat manusia di tengah krisis global dan melemahnya institusi internasional.

Lima Misi Utama untuk Perdamaian Dunia

Konferensi internasional ini juga menegaskan lima misi utama yang menjadi landasan gerakan bersama, yakni memperingati Hari Dialog Antar-Peradaban, memperkuat kontribusi Indonesia bagi perdamaian dunia, mempererat hubungan antar tokoh lintas agama dan negara, merumuskan pesan bersama dalam merespons dinamika global, serta mempromosikan moderasi beragama atau wasathiyyah Islam sebagai identitas keislaman Indonesia di tingkat internasional.

Acara ditutup dengan pembacaan pesan damai bersama dan seruan konkret kepada masyarakat internasional untuk membangun dunia yang lebih adil, bebas dari hegemoni, serta berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian global.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *