Suara yang Dibungkam: Solidaritas untuk Jurnalis Gaza yang Gugur dalam Serangan Israel
“Mereka tidak hanya membunuh tubuh, mereka mencoba membunuh kebenaran.”
Pesan terakhir Anas al-Sharif, jurnalis Al Jazeera
Pada malam kelam 10 Agustus 2025, dunia kembali menyaksikan tragedi yang mengguncang nurani: enam jurnalis Gaza gugur dalam serangan udara Israel, lima di antaranya adalah bagian dari jaringan Al Jazeera. Mereka bukan pejuang bersenjata. Mereka adalah penjaga narasi, saksi mata penderitaan, dan suara yang berani menyampaikan kenyataan dari tanah yang terus digempur.

Tenda media di luar Rumah Sakit Al-Shifa, tempat mereka berlindung dan bekerja, menjadi sasaran langsung. Serangan ini bukan hanya pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional, tetapi juga serangan terhadap kebebasan pers yang menjadi fondasi demokrasi dan kemanusiaan.
Anas al-Sharif, salah satu jurnalis yang gugur, sempat menulis pesan terakhirnya. Ia tahu risiko yang dihadapinya, namun tetap memilih untuk menyampaikan kebenaran. Ia tidak sempat melihat anak-anaknya tumbuh, namun warisannya kini menjadi simbol keberanian dan integritas.
Al Jazeera menyebut serangan ini sebagai pembunuhan terencana. Israel menuduh Anas sebagai anggota Hamas, namun tuduhan itu belum disertai bukti yang dapat diverifikasi. Organisasi seperti CPJ dan RSF mengecam keras, menyebutnya sebagai upaya sistematis untuk membungkam suara independen.
Solidaritas kini menjadi senjata kita. Dari Batang hingga Beirut, dari Jakarta hingga Jenewa, suara-suara bangkit menyerukan perlindungan bagi jurnalis. Kita tidak hanya berduka, kita bersuara. Kita tidak hanya mengenang, kita melawan pembungkaman.
Karena setiap kamera yang hancur, setiap mikrofon yang dibungkam, adalah kehilangan bagi kemanusiaan. Dan setiap jurnalis yang gugur, adalah martir kebenaran.









