Ustadz Bachtiar Nasir: 15 Maret, Momen Global Melawan Islamofobia dan Meningkatkan Solidaritas Umat
Jakarta, Ahadtimes.id – Ustadz Bachtiar Nasir, pemimpin Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center, menegaskan pentingnya perlawanan global terhadap Islamofobia dalam acara buka bersama awak media di bilangan Tebet, Selasa (11/3). Menjelang 15 Maret, yang diperingati sebagai Hari Internasional Perlawanan Islamofobia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ia mengajak umat Islam untuk bersatu dalam menolak diskriminasi dan memperjuangkan hak-hak mereka secara damai.
Menurut Ustadz Bachtiar Nasir, peringatan ini bukan hanya sebatas simbol, tetapi harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran dunia terhadap dampak buruk Islamofobia. “Kita ajak dunia mengakui bahwa Islamofobia adalah bentuk diskriminasi nyata yang merugikan, bukan hanya bagi umat Islam tetapi juga bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Kita lihat peristiwa di Gaza, itulah bentuk Islamofobia yang paling anti-kemanusiaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan perlunya tindakan nyata dalam melawan stigma negatif terhadap Islam. “Dengan adanya pengakuan resmi dari PBB, negara-negara harus lebih aktif dalam mengatasi kebijakan dan narasi yang mendiskreditkan Islam dan umat Muslim. Islam selama ini sering disalahpahami dengan label ekstremisme dan fundamentalisme yang tidak benar,” tambahnya.
Ustadz Bachtiar juga melihat perlawanan terhadap Islamofobia sebagai bagian dari dakwah yang lebih luas. Ia mendorong para tokoh Islam, media Islam, serta publik figur untuk terus menyuarakan kebenaran dan meluruskan kesalahpahaman tentang Islam. “Islam dan agama-agama lainnya sejatinya adalah kekuatan moral yang mengajarkan kebaikan. Kita harus menjaga orisinalitasnya dan melawan narasi yang menyimpang,” tegasnya.
Terakhir, ia menekankan pentingnya solidaritas umat Islam, khususnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim. “Kita jadikan 15 Maret sebagai momen untuk bersatu dalam menolak diskriminasi dan memperjuangkan hak-hak kita secara damai. Semoga pemangku kebijakan juga menjalankan amanah ini, sebagaimana telah ditegaskan dalam resolusi sidang umum PBB,” pungkasnya.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran terhadap Islamofobia, diharapkan peringatan ini bisa menjadi titik balik bagi dunia untuk lebih menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.









