Sejarawan Ali Anwar Ungkap Detik-Detik Tewasnya 90 Tentara Jepang di Kali Bekasi, Peristiwa Heroik yang Mengubah Sejarah Kemerdekaan
BEKASI – Sejarawan, budayawan, sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi, Ali Anwar, mengungkap kembali kronologi awal peristiwa tewasnya sekitar 90 tentara Jepang di kawasan Kali Bekasi pada 19 Oktober 1945. Peristiwa heroik tersebut menjadi salah satu bab penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Bekasi.
Melalui sebuah video yang diunggah di akun Facebook pribadinya dan direkam di kawasan Monumen Kali Bekasi, Ali Anwar menjelaskan bahwa lokasi tersebut kini menjadi simbol persahabatan Indonesia-Jepang, sekaligus pengingat atas salah satu pertempuran paling bersejarah setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
“Di belakang saya ada Monumen Persahabatan Indonesia-Jepang untuk mengenang peristiwa terbunuhnya sekitar 90 tentara Jepang di antara Stasiun Bekasi hingga Kali Bekasi pada 19 Oktober 1945,” ujar Ali Anwar.

Berawal dari Informasi Rahasia
Menurut Ali Anwar, peristiwa tersebut bermula ketika Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jatinegara, Mayor Sambas Dinata, menghubungi Wakil Komandan BKR Bekasi, Letnan II Zakaria Burhanuddin.
Dalam komunikasi tersebut disampaikan informasi bahwa sebuah kereta api yang membawa sekitar 90 tentara Jepang akan melintas menuju Lapangan Udara Kalijati, Subang.
Menerima informasi itu, Zakaria Burhanuddin segera berkoordinasi dengan anggota BKR serta Kepala Stasiun Bekasi untuk menyusun strategi penyergapan.
Kereta yang semula melintas di jalur utama kemudian diarahkan menuju rel buntu yang berada di sisi timur Stasiun Bekasi, jalur yang saat itu hanya digunakan sebagai tempat parkir rangkaian kereta.
“Zakaria meminta agar kereta dialihkan ke rel buntu sehingga pasukan Jepang tidak dapat melanjutkan perjalanan,” tutur Ali Anwar.
Duel Maut dengan Komandan Jepang
Ali Anwar menjelaskan, setelah kereta berhenti, Zakaria Burhanuddin sempat menunggu sekitar 15 menit sebelum akhirnya salah seorang tentara Jepang keluar dari gerbong.
Karena pernah menjadi anggota Heiho pada masa pendudukan Jepang, Zakaria mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang. Ia meminta agar komandan pasukan keluar untuk bernegosiasi.
Namun situasi berubah drastis ketika komandan Jepang diduga hendak mengeluarkan senjatanya.
Melihat ancaman tersebut, Zakaria lebih dahulu melepaskan tembakan ke arah komandan Jepang.
“Empat peluru mengenai bagian dada, jantung, hingga pinggang komandan Jepang sehingga ia tewas di tempat,” jelas Ali Anwar.
Pertempuran Sengit di Sekitar Gerbong
Kematian sang komandan memicu perlawanan dari tentara Jepang lainnya.
Mereka berusaha keluar dari gerbong dan mengambil persenjataan yang berada di bagian belakang kereta.
Namun upaya tersebut berhasil digagalkan oleh anggota BKR bersama masyarakat Bekasi yang telah bersiap melakukan penyergapan.
Menurut Ali Anwar, warga ketika itu menggunakan berbagai senjata sederhana seperti bambu runcing, golok, balok kayu, hingga senjata rampasan untuk menghadapi tentara Jepang.
Bentrokan berlangsung sengit sebelum akhirnya seluruh pasukan Jepang berhasil dilumpuhkan.
Sebagian jenazah kemudian dibawa menuju kawasan Kali Bekasi.

Dua Tentara Sempat Melarikan Diri
Ali Anwar juga mengungkap adanya beberapa tentara Jepang yang sempat meloloskan diri dari lokasi penyergapan.
Dua orang di antaranya berhasil mencapai wilayah Teluk Byung dan Teluk Pucung.
Namun keduanya akhirnya berhasil ditangkap oleh masyarakat setempat sebelum dibawa kembali ke kawasan Kali Bekasi.
Ia juga menceritakan kisah unik mengenai seorang tentara Jepang yang sempat beberapa kali ditembak dan dibacok tetapi belum meninggal.
Setelah diperiksa, masyarakat menemukan bahwa tentara tersebut mengenakan isim atau benda yang diyakini sebagai jimat di bagian ikat pinggangnya.
“Setelah benda itu dilepas, tentara Jepang tersebut kembali ditembak dan akhirnya meninggal dunia,” tutur Ali Anwar.
Menjadi Bagian Penting Sejarah Bekasi
Ali Anwar menegaskan bahwa peristiwa 19 Oktober 1945 merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan rakyat Bekasi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Peristiwa tersebut menunjukkan keberanian para pejuang Badan Keamanan Rakyat bersama masyarakat dalam menghadapi tentara Jepang yang saat itu masih bersenjata lengkap meskipun Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya.
Ia berharap generasi muda terus mempelajari sejarah lokal agar memahami besarnya pengorbanan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa.
“Sejarah seperti ini jangan sampai hilang. Bekasi memiliki banyak peristiwa heroik yang layak diketahui oleh generasi sekarang maupun yang akan datang,” pungkasnya.









