Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita Kemanusiaan Tokoh

PKBM Pelindo Prestasi Dorong Pembelajaran Fleksibel, Adaptif Teknologi dan Berbasis Kompetensi

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) atau pendidikan nonformal terus mengukuhkan perannya sebagai jalur pendidikan yang fleksibel dan berkeadilan bagi anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan optimal dalam sistem pendidikan formal.

PKBM kini membuka ruang bagi berbagai kelompok peserta didik, mulai dari anak putus sekolah, korban perundungan (bullying), anak dari keluarga kurang mampu, hingga mereka yang terpaksa bekerja pada usia dini.

Dalam konteks tersebut, PKBM Pelindo Prestasi menerima kunjungan Wakil Menteri Pendidikan periode 2010–2011, Fasli Jalal, pada Selasa (22/9/2026). Kehadiran Fasli Jalal menjadi momentum untuk membahas penguatan pendidikan nonformal agar semakin mampu menjawab kebutuhan peserta didik.

Pembelajaran Tidak Kaku dan Berbasis Praktik

Fasli Jalal mendorong PKBM menerapkan pendekatan pembelajaran yang tidak kaku, kontekstual, serta berorientasi pada praktik langsung (hands-on learning).

Menurutnya, karakteristik tersebut membuat PKBM memiliki ruang yang cukup untuk mengakomodasi kebutuhan unik setiap peserta didik. Durasi pembelajaran yang fleksibel serta penyesuaian dengan minat individual siswa menjadi salah satu keunggulan pendidikan nonformal.

Pendekatan ini memungkinkan proses belajar tidak hanya berorientasi pada penyelesaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai kondisi, kemampuan, dan kebutuhan mereka.

Dorong Pemanfaatan Teknologi dan AI

Dalam menghadapi perkembangan zaman, Fasli juga menekankan pentingnya investasi pada penguasaan teknologi sebagai bagian dari penguatan PKBM.

Para tutor, kata dia, perlu mengenalkan teknologi kepada peserta didik, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Pemanfaatan AI dinilai dapat membantu siswa memperoleh dan menyerap informasi secara lebih efisien serta mandiri, sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing.

Namun, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan pendampingan tutor. Peserta didik perlu dibekali kemampuan melakukan verifikasi dan validasi informasi agar mampu membedakan fakta, data yang akurat, serta informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, teknologi tidak sekadar menjadi alat untuk mendapatkan informasi, tetapi juga menjadi sarana membangun kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Integrasi Mikro-Kredensial dan Kompetensi

Fasli Jalal, yang disebut dalam rilis sebagai mantan Rektor Universitas Yarsi, juga mendorong model pembelajaran PKBM untuk diarahkan pada integrasi mikro-kredensial dan pengakuan kualifikasi kompetensi, seperti SKKNI.

Model tersebut memungkinkan kompetensi yang diperoleh peserta didik memiliki pengakuan yang lebih jelas. Lulusan PKBM diharapkan tidak hanya menyelesaikan pendidikan kesetaraan, tetapi juga memiliki kompetensi yang dapat menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Dalam rilis disebutkan, sistem sertifikasi kompetensi tersebut memungkinkan lulusan PKBM menyetarakan atau menyambung pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti politeknik atau perguruan tinggi, dengan durasi belajar yang lebih singkat.

Jutaan Anak Masih Berada di Luar Sistem Sekolah

Penguatan pendidikan nonformal menjadi penting karena masih terdapat jutaan anak usia sekolah yang berada di luar sistem pendidikan formal.

Berdasarkan data Susenas BPS yang disebut dicatat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) usia 7–18 tahun di Indonesia berada pada kisaran 2,92 juta hingga 3,96 juta anak.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 217.000 anak disebut merupakan kasus murni putus sekolah (drop out) di tengah masa pendidikan.

Kasus anak tidak sekolah juga disebut banyak terkonsentrasi pada jenjang pendidikan menengah, terutama kelompok usia 16–18 tahun atau tingkat SMA/SMK sederajat. Faktor ekonomi, keharusan bekerja, serta persoalan sosial di lingkungan sekolah formal disebut menjadi sejumlah faktor yang melatarbelakanginya.

PKBM Tetap Memberikan Jalur Pendidikan Kesetaraan

Kepala PKBM Pelindo Prestasi, Wiyanto, menilai masukan Fasli Jalal menjadi dorongan penting bagi pengembangan pendidikan nonformal.

Menurut Wiyanto, kehadiran tokoh pendidikan tersebut memberikan motivasi bagi PKBM untuk terus memperkuat layanan pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan jalur pembelajaran alternatif.

“Fasli Jalal tokoh pendidikan, sekaliber dia, mau memberikan masukan yang penting guna kemajuan anak didik kita. Peranan tokoh nasional ini, kita anggap dorongan moral dan spirit demi masa depan anak bangsa,” jelas Wiyanto.

Ia menegaskan, pendidikan di PKBM tetap memberikan ijazah yang setara dengan jenjang SD hingga SMA. Lulusan juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun memasuki dunia kerja.

Kehadiran PKBM dengan model pembelajaran yang fleksibel, pemanfaatan teknologi, penguatan kompetensi, serta jalur pendidikan kesetaraan menjadi bagian dari upaya membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak yang sebelumnya terhambat mengikuti sistem pendidikan formal.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *