Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita info haji dan umroh Literasi Tokoh

Abi Dodi Ungkap Empat Gradien Haji dan Umroh: Bukan Sekadar Berangkat, tapi Memahami Maknanya

Ahadtimes.id, JAKARTA — Ibadah haji dan umroh tidak semata-mata tentang kemampuan seseorang untuk berangkat ke Tanah Suci. Lebih dari itu, pemahaman terhadap makna ibadah menjadi bagian penting yang perlu dipersiapkan setiap Muslim.

Hal tersebut disampaikan Prof. (HC) Dodi Harsono Rusli Effendi atau Abi Dodi, Founder dan Pembina ASI Center, saat menjelaskan konsep empat gradien haji dan umroh dalam kajian yang mengajak umat memahami lebih dalam makna ibadah haji.

Menurut Abi Dodi, terdapat empat kondisi atau gradien yang dapat menggambarkan hubungan seseorang dengan ibadah haji dan umroh.

Pertama, berangkat haji atau umroh dan memahami maknanya.

Kedua, tidak berangkat haji atau umroh, tetapi memahami maknanya.

Ketiga, tidak berangkat dan tidak memahami maknanya.

Keempat, berangkat haji atau umroh tetapi tidak memahami maknanya.

SUDAH RINDU BAITULLAH ? TAHAN DULU KANGENNYA

Abi Dodi menekankan bahwa dua kondisi terakhir bukanlah tujuan yang ingin dicapai. Menurutnya, seseorang yang telah memiliki kesempatan pergi ke Tanah Suci tetap perlu membangun pemahaman mengenai hakikat dan makna ibadah yang dijalankannya.

“Banyak orang pergi haji, berangkat umrah, gak tahu makna,” ujar Abi Dodi.

Memahami Haji Menjadi Fokus Utama

Melalui konsep tersebut, Abi Dodi ingin mendorong umat agar tidak menjadikan keberangkatan ke Tanah Suci sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dalam menjalankan ibadah haji dan umrah.

Video : 4 Gradien Haji – Umroh

Program yang dikembangkan, menurutnya, setidaknya diarahkan agar masyarakat memahami terlebih dahulu apa itu haji dan umroh, termasuk makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

“Di sini mau kita buat program ini, minimal kau paham tentang haji, apa itu haji dan umroh,” tuturnya.

Ia kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan Surat Al-Hajj ayat 27, yang berbicara mengenai seruan kepada manusia untuk menunaikan haji.

وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ
(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Dalam perspektif yang disampaikan Abi Dodi, keberangkatan seseorang menuju ibadah haji bukan semata-mata ditentukan oleh faktor materi, status pendidikan, jabatan, atau kedudukan sosial.

“Yang Memanggil Adalah Allah”

Abi Dodi memberikan penekanan bahwa di balik perjalanan seseorang menuju Tanah Suci terdapat kehendak dan panggilan Allah.

“Yang manggil bukan duit, yang manggil bukan ilmu. Kau bukan profesor doktor, bukan keulamaan, bukan Jendral mu yang manggil keberangkatan kau ke haji dan umroh. Allah yang memanggil,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu inti ajakan Abi Dodi agar umat tidak hanya mempersiapkan kemampuan finansial dan fisik untuk berhaji, tetapi juga mempersiapkan pemahaman, keimanan, serta kesungguhan dalam menjalankan setiap aturan ibadah.

Dengan demikian, persiapan haji tidak berhenti pada persoalan administratif atau antrean keberangkatan. Ada persiapan batin dan intelektual agar seseorang mampu memahami pesan-pesan yang terkandung dalam rangkaian ibadah tersebut.

Haji Bukan Sekadar Perjalanan Fisik

Konsep empat gradien yang disampaikan Abi Dodi pada akhirnya mengarahkan umat untuk melihat haji dan umrah sebagai perjalanan yang memiliki dimensi lebih luas daripada sekadar perpindahan fisik menuju Tanah Suci.

Seseorang bisa saja memiliki kemampuan untuk berangkat, tetapi tanpa pemahaman terhadap maknanya, perjalanan tersebut berisiko hanya menjadi pengalaman fisik.

Sebaliknya, seseorang yang belum memiliki kesempatan untuk berangkat tetap dapat mulai mempelajari makna haji dan umroh sebagai bagian dari persiapan spiritual.

Karena itu, menurut gagasan yang disampaikan Abi Dodi, memahami makna haji merupakan bagian penting dari mempersiapkan diri menuju Baitullah.

Pesan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar umat mulai mempelajari Al-Qur’an dan menggali makna ibadah haji sejak jauh-jauh hari, sehingga ketika kesempatan untuk memenuhi panggilan Allah tiba, perjalanan tersebut tidak hanya menjadi perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan untuk semakin mengenal dan mendekat kepada Allah.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *