Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Nasional

Bagaimana Kebesaran itu Lahir, Maka Kita Harus Tahu Akarnya

AHADTIMES.ID-  Asep Sobari, Lc, pendiri Sirah Community Indonesia, anggota Majelis MIUMI serta peneliti INSISTS, dalam kuliah yang disampaikan pada Sabtu (21/1/2017) dalam acara Studium General Sirah Community Indonesia yang mengangkat tema “Menggali Akar Permasalahan Peradaban” di Gedung Sertifikasi Guru Ki Hajar Dewantara Universitas Negeri Jakarta, mengatakan untuk mengetahui kebesaran suatu peradaban maka diperlukan pengetahuan mengenai akarnya.

Menurutnya ketika berbicara suatu persoalan, politik, ekonomi, sosial dan sebagainya pada hakikatnya adalah membahas mengenai peradaban.

Untuk mengetahui kebesaran suatu peradaban, pelajari lebih dulu akar dari peradaban tersebut. Umumnya banyak yang terpaku justru hanya pada permasalahan dan persoalan yang menghangat dan menggejala, seperti persoalan politik, ekonomi dan sebagainya. Terlalu terpaku dengan gejala permukaan justru akan mengaburkan inti dari persoalan yang sebenarnya dan dari inti persoalan tesebut akan ditemukan solusi dari persoalan yang ada.

“Kalau kita terpaku dengan persoalan-persoalan gejala permukaan, maka sebenarnya kita tidak sedang membahas dasar permasalahan. Dan akan sangat sulit untuk menemukan satu titik permulaan atau pangkal masalah. Dimana dari situlah kita bisa menentukan bahwa ‘kenapa kita berada disini’, ‘kenapa kita berada dalam konsisi seperti ini’, sehingga ketika itu tidak ditemukan maka akan sangat sulit mencari solusi yang tepat.”

Asep memberi gambaran dengan satu daerah dan istilah Mudkharesh di Sevilla, berasal dari kata Dajjan, Dajjin yang berarti ‘Anak Ayam’, lalu kemudian menjadi kata Mudajjan. Mudajjan adalah suatu periode terakhir Islam di Spanyol, ini berlangsung sekitar dua ratus tahun, namun selama itu umat Islam tidak langsung diusir, diintimidasi dan dihilangkan, tapi perlahan dibuat minoritas untuk kemudian diusir, diintimidasi dan dihilangkan. Pada masa ini arsitektur dan bangunan Islam sangat menonjol.

Ketika itu kekuasaan Katolik mampu membuka dan menguasai kota-kota di Spanyol dengan kekuatan militer, setelah menguasai dan ketika ingin membangun dalam bentuk materi dan bangunan, mereka dibuat tertarik, takjub dan mempesona dengan gaya arsitektur Islam. Sehingga seterusnya mereka membangun dengan gaya arsitektur lengkap dengan ornamen dan kaligrafi Islam, dan yang melakukannya adalah orang-orang Islam.

“Sehingga meskipun mereka pemenang saat itu, tetap bangunan-bangunan mereka yang membuatnya adalah arsitek-arsitek Muslim, termasuk juga ornamen-ornamennya, relief-relief dan kaligrafinya, padahal itu dimasa Katolik.” Terangnya dengan penuh bangga.

“Itu artinya apa, dan itu berlangsung selama dua ratus tahun. Kekuatan Eropa yang sudah mendominasi secara militer dari segi produk peradabannya masih sangat tertarik, bukan sekedar meniru, tapi belum bisa meniru. Semua dilakukan oleh arsitektur Muslim, sangat terlihat disitu, dan itu tampak di Sevilla, sangat sulit ditandingi dan menurut saya sampai sekarang, padahal itu adalah sisa-sisa saja dari karya peradaban Islam” paparnya panjang lebar.

Pria dengan empat anak ini melanjutkan semua itu terjadi dan berkait dengan akarnya, ketika umat islam walaupun dengan pasang surutnya masih tetap eksis mewarnai dunia, dan itu terjadi selama delapan ratus tahunan dan bahkan lebih, tapi sampai sekarang belum ada satu kekuatan pun yang mampu menyainginya. Masa yang panjang sampai delapan ratus tahun itu akarnya adalah 23 tahun masa Sirah Nabawiyah.

“Artinya yg dibangun Rasulullah SAW sebagai fondasi peradaban teramat sangat kokoh, sangat luar biasa!” tambahnya.

Rasulullah SAW selama waktu 23 tahun tersebut dinilai telah membangun suatu fondasi kokoh dan sangat memberi peranan dalam kekuasaan Islam di percaturan dunia selama delapan ratus tahun tersebut. Menurutnya meski tidak meninggalkan atau mewarisi fisik dan bangunan, namun Rasulullah SAW telah mewarisi nilai dalam diri manusia yang mampu menentukan peradaban dunia yang justru kemudian lahir fisik dan bangunan yang sangat indah dan sulit terlupakan, dan 23 tahun inilah awal dari peradaban besar Islam. Jadi sebelum bicara kebangkitan ummat, perlu kita sadari dulu hal ini. (alf)

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *