Gaza, Masjid Al-Aqsa, dan Panggilan Persatuan Dunia Islam: Dari Istanbul Menuju Kebangkitan Umat
Pulau Demokrasi dan Kebebasan ( Demokrasi ve Özgürlükler Adası ) di Istanbul menjadi saksi berlangsungnya Konferensi “Tanggung Jawab Islam dan Kemanusiaan: Gaza”, yang diselenggarakan oleh Persatuan Cendekiawan Muslim Dunia (WCU) bersama Yayasan Cendekiawan Islam Turki.
Forum yang menghadirkan 150 ulama dari 50 negara ini menutup hari keempatnya dengan deklarasi dukungan penuh untuk Gaza, Yerusalem, dan Masjid Al-Aqsa. Turut hadir pula Majelis Syura PKSHabib Dr. H. Salim Segaf Al-Jufri, Lc., M.A ( Ketua Majelis Syuro PKS)

Deklarasi itu mendesak pembukaan segera koridor kemanusiaan, pemutusan total hubungan dengan entitas Zionis, serta dukungan penuh terhadap perlawanan Palestina. Para peserta menegaskan, kelanjutan agresi dan blokade akan memicu intifada rakyat baru.
Masjid Al-Aqsa: Garis Merah Umat Islam
Pernyataan konferensi menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap Masjid Al-Aqsa adalah “garis merah” yang berpotensi memicu bencana agama dan peradaban.
Seruan ini juga mengajak negara-negara Islam membentuk aliansi ekonomi dan militer demi melindungi Palestina, serta menguatkan peran media, gerakan rakyat, dan wirausahawan.
“Kita harus kuat, bukan untuk membunuh, tetapi untuk mencegah kejahatan dan pendudukan.”
— Nasrullah Hacımüftuoğlu
Nasrullah Hacımüftuoğlu: Kekuatan untuk Mencegah, Bukan Menghancurkan
Profesor Nasrullah Hacımüftuoğlu menekankan bahwa dunia Islam harus menjadi kekuatan mandiri yang mampu menghentikan agresi dan ketidakadilan.
“Kita harus kuat dalam ekonomi demi pelayanan, kuat dalam sains dan pemikiran, serta kuat dalam industri pertahanan. Semua ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk mencegah,” tegasnya.
Safvet Halilovic: Saatnya Membangun “Amerika Serikat Islam”
Profesor Safvet Halilovic mengkritik keras standar ganda Barat yang menjadikan HAM hanya berlaku bagi bangsa Barat.
“Di Gaza, terlihat jelas bahwa hak asasi hanya berlaku bagi orang Amerika atau Inggris, seolah orang Arab atau Muslim bukan manusia,” ujarnya.
Halilovic mengusulkan pembentukan struktur supranasional “Amerika Serikat Islam” yang akan menjadi payung politik dan militer bagi seluruh dunia Islam.
Ia mengingatkan bahwa Gaza bukan sekadar isu politik, melainkan simbol spiritual: tempat Mi’raj Nabi ﷺ dan kiblat pertama umat Islam.
Pesan dari Istanbul untuk Dunia
Konferensi ini menegaskan satu hal: Persatuan adalah jalan, kekuatan adalah syarat, dan kemenangan hanya milik mereka yang berpegang teguh pada prinsip dan iman.
Dari Istanbul, gema panggilan ini diharapkan menyebar ke seluruh dunia Islam, menggerakkan kesadaran, dan melahirkan tindakan nyata demi membela Gaza serta umat yang tertindas. (Sumber : baskentekspres.com, yenisafak.com )









