Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita Literasi Tadabbur Quran Tausyiah Tokoh

Makna “Bacalah Kitabmu” dalam QS Al-Isra Ayat 14: Ustadz Sufi Mubarak Ajak Umat Membaca Diri Sebelum Hari Hisab

Perintah Allah dalam Al-Qur’an, “Bacalah kitabmu” (QS. Al-Isra’: 14), tidak hanya berbicara tentang catatan amal pada Hari Kiamat, tetapi juga menjadi ajakan untuk melakukan muhasabah sejak masih hidup. Pesan inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam Quranic Revolution Seri #56 yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom oleh ASI Center Gema 1 Doa Center, Kamis (6/8/2026).

Dalam kajian bertajuk “Bacalah Kitabmu 17:14”, Pengawas Sekolah Qur’an Keluarga Kita, Ustadz Sufi Mubarak Rahman, mengajak peserta memahami bahwa setiap manusia memiliki “kitab” yang harus dibaca setiap hari, yaitu dirinya sendiri. Menurutnya, kemampuan membaca diri merupakan bagian penting dari perjalanan menuju pengenalan kepada Allah.

Membaca Diri Sebelum Hari Perhitungan

Ustadz Sufi menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat nanti manusia akan diminta membaca kitab amalnya sendiri. Namun, pesan ayat tersebut seharusnya tidak hanya dipahami sebagai peristiwa di akhirat, melainkan juga menjadi dorongan untuk melakukan evaluasi diri selama hidup di dunia.

Menurutnya, muhasabah adalah cara seorang mukmin membaca perjalanan hidupnya, mengenali kekurangan, dan memperbaiki diri sebelum datang hari pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Tiga Kitab yang Harus Dibaca

Dalam kajian tersebut, Ustadz Sufi menguraikan bahwa Allah menghadirkan tiga “kitab” yang dapat menjadi sarana mengenal kebesaran-Nya.

Pertama adalah kitab alam (afaq), yaitu seluruh fenomena ciptaan Allah seperti langit, bumi, gunung, dan alam semesta.

Kedua adalah kitab diri (anfus), yakni tubuh, hati, akal, dan seluruh potensi manusia yang merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Ketiga adalah Al-Qur’an, sebagai wahyu yang menjelaskan seluruh petunjuk bagi kehidupan.

Konsep tersebut dikaitkan dengan firman Allah dalam QS. Fussilat ayat 53 tentang tanda-tanda Allah di segenap penjuru dan pada diri manusia sendiri.

Tubuh Manusia Sebagai Kitab Allah

Salah satu bagian yang menarik dalam kajian adalah ketika Ustadz Sufi mengajak peserta merenungkan tubuh manusia sebagai “kitab” yang tidak berubah sejak Nabi Adam hingga hari kiamat.

Ia menjelaskan bahwa susunan tubuh manusia, seperti dua mata, dua telinga, satu hidung, dan satu mulut, merupakan bagian dari tanda-tanda Allah yang terus dapat dipelajari sepanjang zaman.

Karena itu, membaca diri tidak hanya berarti mengenali karakter dan perilaku, tetapi juga memahami hikmah penciptaan manusia sebagai ayat-ayat Allah yang hidup.

Membersihkan Hati Agar Mudah Memahami Al-Qur’an

Selain mengajak peserta membaca diri, Ustadz Sufi juga menekankan pentingnya penyucian hati sebagai pintu memahami Al-Qur’an.

Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan ayat yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an hanya disentuh oleh mereka yang disucikan. Menurutnya, istighfar, taubat, dan membersihkan hati dari kesombongan menjadi bagian penting dalam proses menerima cahaya petunjuk Allah.

Semakin bersih hati seseorang, semakin mudah ia memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an maupun tanda-tanda Allah yang ada pada dirinya dan alam semesta.

Takwa Tidak Hanya Tentang Banyaknya Ibadah

Mengutip QS. Ali ‘Imran ayat 133–135, Ustadz Sufi menjelaskan bahwa ciri orang bertakwa tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan diri.

Ia mencontohkan beberapa karakter yang disebut dalam Al-Qur’an, seperti gemar berinfak, mampu menahan amarah, serta memaafkan kesalahan orang lain.

Menurutnya, sikap-sikap tersebut merupakan wujud nyata dari keberhasilan seseorang membaca dan memperbaiki dirinya sendiri.

Jangan Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Sufi mengingatkan bahaya kesombongan spiritual. Ia mengangkat kisah Iblis yang jatuh bukan karena kurang beribadah, tetapi karena merasa lebih baik daripada Nabi Adam.

Karena itu, ia mengajak peserta untuk terus melakukan muhasabah dan tidak mudah menghakimi orang lain.

“Perubahan terbesar dimulai ketika seseorang berani membaca dirinya sendiri, bukan sibuk membaca kesalahan orang lain,” menjadi pesan yang menguatkan keseluruhan materi kajian.

Quranic Revolution, Ruang Tadabbur Al-Qur’an

Quranic Revolution merupakan kajian rutin yang diselenggarakan ASI Center Gema 1 Doa Center setiap malam Jumat pukul 20.00–21.30 WIB secara daring melalui platform Zoom.

Kajian ini menghadirkan pembahasan Al-Qur’an secara tematik dengan pendekatan tadabbur, refleksi, dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Seri ke-56 mengangkat tema “Bacalah Kitabmu 17:14” yang mengajak umat Islam menjadikan muhasabah sebagai langkah awal membangun kehidupan yang lebih dekat dengan Allah.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *