Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Opini

Mencari Sosok Hanzhalah dalam Aksi-Aksi Bela Islam dan Ulama

AHADTIMES.ID – Pasca terbentuknya GNPF-MUI dan bersatunya umat Islam pasca momentum 411/212, umat Islam Indonesia semakin kuat dalam menjawab tiap tantangan musuh-musuhnya. Aksi-aksi bela Islam dan ulama benar-benar menyita perhatian publik, baik lokal maupun dunia internasional. Betapa tidak, bagi umat Islam aksi-aksi ini adalah dalam rangka jihad membela agama serta ulama sebagai _waratsat al-anbiya_ yang makin mendapat tekanan pasca kasus penistaan agama oleh Ahok. Pemerintah kini juga dinilai oleh publik yang mayoritas umat Islam sangat pro dan takut dengan asing. Masalah tidak berhenti sampai di situ, harga-harga barang kebutuhan yang makin melambung semakin memperteguh umat bahwa kinilah momentum untuk berjihad lisan serta mengislah negeri yang kian hari kian kacau ini. Belum lagi kasus kriminalisasi ulama oleh aparat pemerintah yang membuat keadaan sosial-politik Indonesia kini semakin tegang.

Seperti biasa, aparat penegak hukum lalai jika umat Islam dan rakyat biasa yang menjadi korban. Apalagi yang menjadi pelakunya adalah orang yang berkuasa, kaya raya, disayang media massa dan tentunya punya ‘sahabat-sahabat’ di Istana (baca: pusat kekuasaan negara).

Oleh karena itulah aksi-aksi bela Islam serta bela ulama belakangan ini harus senantiasa benar-benar menjadi ajang penguat barisan kaum Muslimin di Tanah Air. Aksi-aksi ini menjadi kelanjutan jihad membela Al-Quran, firman dan kalam Allah _’azza wa jalla_. Aksi-aksi bela Islam dan ulama, meskipun ditujukan untuk kebaikan negara Indonesia serta selalu berjalan dengan lancar dan damai, namun masih bisa ‘gagal’ untuk membuka sumbat telinga para aparat penegak hukum, serta membuka tabir-tabir keadilan. Di sinilah dibutuhkannya kesabaran dan keistiqamahan dalam berjuang. Juga keridhoan dan pertolonganNya.

Allah, Dia-lah yang telah menganugerahkan kemerdekaan, memakmurkan bumi Indonesia dan menciptakan apa yang ada di seluruh bumi Indonesia. Namun anugerah dariNya itu, dibalas oleh ‘seorang yang ingkar’ dengan kata-kata yang melecehkan firmanNya. Belakangan para ulama yang merupakan pewaris para Nabi dan RasulNya pun dikriminalisasi. Padahal tanpa kehendak dan rahmatNya, bumi Indonesia dengan segala keindahan dan isinya tak akan pernah ada.

Perhatikanlah, saat firmanNya dilecehkan dan ulamanya dikriminalisasi, SunnahNya tetap berjalan, negeri ini pun bergerak ke arah distabilitas sosial-politik akibat aparat penegak hukum yang masih takut dan ‘agak malu-malu’ untuk menghukum penista agama tersebut. Namun aneh, para aparat itu begitu beringas untuk mengkriminalisasikan para ulama dan menangkap para aktivis Islam. Semoga kita umat Islam, semua dikuatkan oleh Allah.

Sekarang muhasabah internal. Agak mengherankan, jika seruan-seruan aksi jihad lisan yang menggema seluruh pelosok Indonesia tidak mengundang _ghirah_ keislaman para pemuda Islam Tanah Air. Secara fiqih, jika sudah diseru untuk berjihad oleh ulama dan _umara_ yang berkomitmen dengan syariat, maka hanya ada satu pilihan: hendaknya berangkat, berjuang! Lebih-lebih bagi pemuda Islam yang muda dan sehat.

Tidak bisakah pemuda-pemuda Islam kini meneladani Hanzhalah?

Siapa Hanzhalah? Seorang syuhada perang Uhud itu? Sahabat Nabi itu?

Hanzhalah bin Abi Amir adalah seorang sahabat Rasulullah SAW, beliau anak pemimpin suku Aus yang amat kaya di Madinah. Ayahnya, Abu Amir bin Shaifi, dikenal sebagai tokoh yang membenci Islam. Pada zaman jahiliyah sebelum hijrah Rasulullah ke Madinah, Abu Amir mendapat julukan Abu Amir Sang Pendeta, namun belakangan ketika Madinah dipimpin oleh Rasulullah dan Islam mengambil alih kepemimpinan di kota Nabi itu, julukan itu berbalik menjadi Abu Amir sang lelaki Fasik.

Hanzhalah berbanding terbalik dengan ayahnya, ia adalah pemuda Islam yang berakhlak mulia dan perindu syahid. Pada malam hari sebelum perang Uhud Hanzhalah menjadi pengantin baru. Malam itu juga seruan perang fii sabilillah digelorakan oleh Rasulullah. Hanya mereka yang munafik, yang merasa berat dan enggan berangkat berjihad. Hanzhalah radhiyallahu’anhu meskipun sedang bergaul bersama istrinya dan telah junub, tetap memenuhi seruan jihad melawan musuh-musuh Islam, Quraisy Makkah. Hanzhalah bergegas memenuhi panggilan jihad itu bahkan saking bersegeranya, beliau belum sempat mandi junub terlebih dahulu. Padahal kita tahu kalau pemuda pengantin baru dan sedang bergaul dengan istrinya, akan senang berlama-lama memadu kasih dan melampiaskan hasrat cintanya, serta enggan melakukan hal lain, karena hasrat cinta begitu bergejolak dalam jiwanya. Namun pemuda Hanzhalah lain dari yang lain, ia lantas mengambil pedang dan baju besinya untuk berjihad.

Meski dalam keadaan junub, Hanzhalah berperang sebagaimana pemuda Islam yang tangguh dan bersemangat. Semangat darah muda membela agama dari kezhaliman orang-orang musyrik Makkah yang ingin menghabisi kaum Muslimin. Ketika perang berkecamuk, Hanzhalah sebenarnya mengincar pimpinan kaum musyrik Abu Sufyan dan telah duel satu lawan satu dengannya, namun Hanzhalah lebih dahulu ditusuk tombak dan pedang oleh orang-orang musyrik. Padahal Abu Sufyan sudah jatuh dari kudanya, Abu Sufyan minta tolong ke kawanan musyrik Quraisy “Wahai orang-orang Quraisy tolong aku!” jerit Abu Sufyan yang siap diterjang pedang Hanzhalah. Namun belum sempat melakukannya, Hanzhalah dihantam tombak dan pedang oleh beberapa orang anak buah Abu Sufyan. Hanzhalah pun wafat sebagai syuhada yang dijamin surga oleh Rasulullah. Ketika Rasulullah melihat jenazahnya, Rasulullah bersabda, “Sungguh, saudara kalian ini sedang dimandikan oleh para malaikat.” Oleh karena itu, Hanzhalah digelari gasîlul malaaikat (orang yang dimandikan oleh para malaikat) atau al-gasîl (orang yang dimandikan). Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam _Al-Mustadrak_ dan Ibnu Hisyam dalam _Sirah Nabawiyah_nya. Para malaikat juga dikatakan berebutan dalam memandikan pemuda Hanzhalah.

Karena peristiwa menakjubkan itu para sahabat Rasulullah bertanya kepada istri Hanzhalah, Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul tentang perihal tersebut, maka sang istri menjawab, “Dia keluar berjihad, padahal ia masih dalam kondisi junub.” Hal itu disampaikan kepada Rasulullah, maka beliau menyimpulkan, _“Pantas saja ia dimandikan oleh Malaikat.”_ *(HR Hakim dan al-Baihaqi* , dalam Sunnan Al-Baihaqi dengan sanad hasan, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Albani dalam Silsilah Hadits Shahih : no.326. Imam Dzahabie pun menyatakan bahwa riwayat ini shahih).

Begitulah riwayat pemuda Anshar dari suku Aus yang luar biasa tersebut. Pemuda Hanzhalah pergi bersegera memenuhi panggilan jihad membela Islam, tidak ada tapi dan tidak ada nanti. Juga tidak dengan diskusi-diskusi lebih dahulu, baik secara langsung maupun di medsos. Pemuda Hanzhalah jadi teladan baik bagaimana seharusnya pemuda Islam bersikap. Bagi pemuda Islam masa kini yang masih punya sedikit saja _ghirah_ membela Islam, Al-Quran, dan ulamanya, seharusnya kisah Hanzhalah ini menjadi amunisi penyemangat.

Diharapkan pemuda-pemuda Islam senantiasa berjuang dan berjihad membela agama, ulama serta negara. Untuk mereka yang tiada uzur hendaknya bersegera memenuhi panggilan jihad, sebagaimana bersegeranya pemuda Hanzhalah.

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
_”Berangkatlah kalian, baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan diri kalian di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”_ ( *QS At-Taubah: 41* )

Jika tidak sampai berangkat, Allah SWT mengancam dengan firmanNya:
إِلا تَنْفِرُوا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلا تَضُرُّوهُ شَيْئًا وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
_”Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah akan menyiksa kalian dengan siksa yang pedih dan ditukarnya (kalian) dengan kaum yang lain, dan kalian tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”_ ( *QS At-Taubah: 39*)

Maka, bilakah Hanzhalah-Hanzhalah masa kini bersegera memenuhi seruan berjihad membela Islam?

*Ilham Martasyabana, pegiat sejarah Islam.*

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *