Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita event Opini Tokoh

Ismail Fahmi Ungkap Fenomena ‘Reformasi Jilid 2’, Media Sosial Jadi Arena Konsolidasi Politik Baru

Ahadtimes.id, Jakarta – Pendiri platform analisis media sosial Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengungkap bagaimana narasi “Reformasi Jilid 2” berkembang menjadi salah satu isu politik terbesar di ruang digital Indonesia sepanjang awal Juni 2026. Hal tersebut disampaikan dalam Kajian Subuh UBN Newsroom bertajuk “Jurnalis Makin Penting dengan Hadirnya AI” bersama Bachtiar Nasir di UBN Newsroom, Masjid Baitul Maqdis Indonesia, Jl. Tebet Utara I No. 40, Jakarta Selatan, pada waktu dhuha, Jum’at 12 Juni 2026.

UBNNewsRoom Kajian Subuh Jurnalis Makin Penting Dengan AI, Foto Oleh SuaraIslam.Id

Dalam paparannya, Ismail Fahmi menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan Drone Emprit pada periode 1–9 Juni 2026, isu Reformasi Jilid 2 menghasilkan lebih dari 19 ribu percakapan (mentions) dan 17,7 juta interaksi di berbagai platform digital, mulai dari X (Twitter), Facebook, Instagram, TikTok, YouTube hingga media online.

 

Baca Juga : Ismail Fahmi: Jurnalis Tak Akan Digantikan AI, Justru Semakin Dibutuhkan di Era Banjir Informasi

 

Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa media sosial kini bukan sekadar ruang diskusi publik, melainkan telah menjadi arena konsolidasi gerakan sosial dan politik yang sangat efektif.

“Energi publik saat ini terkonsolidasi secara digital jauh sebelum aksi massa terjadi di lapangan,” ungkap Ismail Fahmi dalam kajian tersebut.

Twitter dan TikTok Jadi Motor Penyebaran Narasi

Data Drone Emprit menunjukkan bahwa platform X menjadi episentrum percakapan dengan lebih dari 16 ribu mentions dan sekitar 10 juta interaksi. Sementara itu, TikTok menjadi platform dengan daya ledak penyebaran paling tinggi, menghasilkan 6,4 juta interaksi hanya dari ratusan unggahan video.

Percakapan memuncak pada 7 Juni 2026 ketika isu ultimatum 18 hari dari BEM SI Jawa Tengah kepada pemerintah mulai menyebar luas di media sosial. Beberapa hari kemudian, media online mulai merespons setelah isu tersebut berkembang menjadi perhatian nasional.

Sentimen Negatif Dominasi Ruang Digital

Salah satu temuan penting Drone Emprit adalah tingginya sentimen negatif di media sosial yang mencapai lebih dari 80 persen. Sentimen tersebut dipicu oleh berbagai isu ekonomi dan politik yang saling terhubung, mulai dari pelemahan nilai rupiah, penurunan indeks saham, isu korupsi, hingga kekhawatiran terhadap kondisi demokrasi.

Menariknya, analisis emosi menunjukkan bahwa perasaan yang paling dominan bukan kemarahan, melainkan ketakutan (fear). Sebanyak 44 persen percakapan yang dianalisis mengandung unsur kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, masa depan demokrasi, serta potensi ketidakstabilan sosial.

“Publik tidak hanya marah, tetapi juga takut. Mereka menunggu kepastian dan solusi atas berbagai persoalan yang dirasakan,” jelas Ismail Fahmi.

Enam Isu Besar Membentuk Narasi Reformasi Jilid 2

Dalam analisisnya, Drone Emprit menemukan sedikitnya enam isu utama yang saling berkaitan dan membentuk narasi Reformasi Jilid 2. Isu tersebut meliputi pelemahan rupiah, penurunan IHSG, dugaan korupsi program pemerintah, kekhawatiran terhadap demokrasi, gelombang PHK, serta menurunnya daya beli masyarakat.

Berbeda dengan gelombang protes sebelumnya yang biasanya berfokus pada satu isu tertentu, kali ini berbagai persoalan tersebut menyatu menjadi satu narasi besar yang menyuarakan ketidakpuasan publik terhadap kondisi yang ada.

Infografis “Jurnalis Makin Penting di Era AI” disusun oleh AI

Jurnalisme Tetap Vital di Era AI

Dalam diskusi yang dipandu UBN Newsroom, Ismail Fahmi menekankan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), peran jurnalis justru menjadi semakin penting.

Menurutnya, banjir informasi yang beredar di media sosial membutuhkan proses verifikasi, analisis data, dan penyajian informasi yang akurat agar masyarakat tidak terjebak dalam disinformasi maupun polarisasi yang berlebihan.

Kajian tersebut sekaligus menegaskan bahwa AI dapat menjadi alat bantu yang sangat kuat bagi dunia jurnalistik, namun tidak dapat menggantikan peran manusia dalam memahami konteks, melakukan verifikasi fakta, serta menjaga etika dan tanggung jawab publik.

Sementara itu, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia, Bachtiar Nasir, mengingatkan pentingnya media dan para jurnalis menghadirkan narasi yang mencerahkan, memperkuat persatuan, serta menjaga stabilitas bangsa di tengah derasnya arus informasi digital.

Kajian Subuh UBN Newsroom ini menjadi ruang refleksi penting bagi insan media dalam menghadapi perubahan lanskap komunikasi publik, di mana teknologi AI dan media sosial semakin berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *