Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita event SAJID Tokoh

Saifullah Yusuf: Marwah NU Tak Bisa Hanya Dilihat dari Sosok Ketua Umum

JAKARTA — Menteri Sosial Republik Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031, Saifullah Yusuf, menekankan pentingnya memahami Nahdlatul Ulama (NU) secara utuh, bukan hanya dari sosok ketua umum, pimpinan, atau jajaran pengurusnya. Menurutnya, NU juga ditopang oleh para ulama, kiai, dan pengikut yang terus bekerja di tengah masyarakat.

Studio SAJID Friday Morning Talk bersama Saifullah Yusuf ( Gus Ipul ) Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031 dan Menteri Sosial sejak 11 September 2024 berserta Ustadz Bachtiar Nasir, Ketua Umum SAJID, 9/10/2026.

Pesan tersebut disampaikan dalam acara SAJID Friday Morning Talk bertema “Menjaga Marwah Muktamar NU” yang digelar Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID), Jumat, 9 Oktober 2026, di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan. Acara menghadirkan Saifullah Yusuf dengan host KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum SAJID.

Dalam pemaparannya, Saifullah mengajak masyarakat melihat NU melampaui dinamika kepemimpinan formal dan riuhnya perbincangan di media sosial.

NU Bukan Hanya Pengurus dan Ketua Umum

Saifullah menjelaskan, NU memiliki jaringan ulama dan kiai yang berperan dalam kehidupan umat, termasuk mereka yang tidak banyak tampil di ruang publik. Mereka mengelola pesantren, pengajian, sekolah, serta berbagai kegiatan pendidikan dan keagamaan di kampung-kampung dan berbagai wilayah Indonesia.

“Jadi sebenarnya NU ya tetap NU. Kan nggak bisa NU hanya dilihat siapa ketua umumnya, siapa pimpinannya, siapa pengurusnya,” demikian pernyataan Saifullah dalam transkrip acara.

Ia menambahkan, banyak ulama dan kiai yang mengiringi perjalanan organisasi, tetapi tidak selalu terlihat di permukaan. Sebagian besar, menurutnya, menjalankan pengabdian melalui jalur formal maupun nonformal dengan tulus dan tidak terpengaruh oleh kegaduhan yang dinilainya tidak perlu.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam pembahasan mengenai marwah NU: kehidupan organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh figur yang berada di struktur kepemimpinan, melainkan juga oleh kontribusi para ulama dan pengikutnya di berbagai lapisan masyarakat.

Saifullah Soroti Informasi dan Kegaduhan di Media Sosial

Dalam kesempatan itu, Saifullah juga menyoroti perkembangan informasi di media sosial yang menurutnya dapat memperpanjang polemik, meskipun suatu persoalan telah diselesaikan.

Ia mengingatkan bahwa informasi yang beredar tidak selalu sepenuhnya benar. Dalam transkrip, ia membedakan informasi yang benar, sebagian benar, dan palsu. Ia juga mencontohkan bagaimana sebuah foto yang benar dapat diberi keterangan atau caption yang menimbulkan persepsi berbeda dari keadaan sebenarnya.

“Karena medsos itu memang ada yang benar,” ujarnya, sebelum mencontohkan foto yang diberi keterangan seolah-olah menggambarkan pertemuan untuk merebut kepemimpinan.

Karena itu, perbincangan mengenai dinamika internal organisasi perlu disikapi secara cermat. Publik tidak cukup hanya melihat foto, potongan informasi, atau narasi yang beredar, tetapi perlu memperhatikan konteks dan memastikan kebenaran informasi sebelum menarik kesimpulan.

Perbedaan Pendapat Dinilai sebagai Bagian dari Dinamika NU

Saifullah menyebut NU telah lama terbiasa menghadapi perbedaan dan pertentangan pendapat. Menurutnya, dinamika menjelang muktamar bukan hal yang sepenuhnya baru dalam perjalanan organisasi tersebut.

Ia kemudian menggambarkan proses muktamar yang dibahasnya sebagai proses yang berjalan terbuka, diikuti berbagai pihak, selesai tepat waktu, dan menghasilkan kepengurusan baru. Ia juga menyatakan bahwa menurut pandangannya, tidak ada ketentuan yang dilanggar maupun proses yang mencederai pelaksanaan muktamar tersebut.

Pernyataan itu merupakan penilaian Saifullah terhadap proses yang ia singgung dalam acara. Transkrip yang tersedia tidak memuat uraian terperinci mengenai nama muktamar, dokumen prosedural, atau keterangan dari pihak lain untuk memverifikasi setiap klaim tersebut secara independen.

Tanggapi Isu Dugaan Aliran Uang ke Muktamar

Pada bagian akhir pemaparannya, Saifullah turut menyinggung isu dugaan aliran uang hasil korupsi ke muktamar. Ia menilai tuduhan tersebut sebagai opini yang, menurutnya, tidak disertai bukti.

“Terakhir ini malah dikaitkan dengan isu riswa, dengan isu uang hasil korupsi yang mengalir ke muktamar. Itu semua … hanya opini tanpa bukti,” demikian bagian pernyataannya sebagaimana tercatat dalam transkrip.

Pernyataan tersebut perlu dipahami sebagai tanggapan Saifullah terhadap isu yang dibicarakan. Transkrip tidak menyertakan bukti pendukung, dokumen pemeriksaan, ataupun keterangan pihak lain mengenai dugaan tersebut. Dengan demikian, status dan kebenaran isu itu tidak dapat disimpulkan hanya dari rekaman pembicaraan ini.

Menjaga Marwah NU dengan Memahami Organisasi secara Utuh

Melalui forum SAJID Friday Morning Talk, pembahasan tentang marwah muktamar mengarah pada pentingnya melihat NU sebagai organisasi dengan ekosistem keulamaan, pendidikan, dan pengabdian yang luas. Kepemimpinan formal merupakan salah satu bagian dari perjalanan organisasi, sementara para kiai, ulama, pengelola pesantren, pendidik, dan pengikut turut menjalankan peran di tengah masyarakat.

Pesan Saifullah juga menyoroti perlunya kehati-hatian dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial, terutama ketika menyangkut dinamika internal organisasi keagamaan.

Acara yang dipandu KH Bachtiar Nasir tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas marwah Muktamar NU di tengah perbincangan publik mengenai kepemimpinan dan dinamika organisasi. Dalam konteks itu, verifikasi informasi, pemahaman terhadap perbedaan pendapat, serta penghargaan terhadap kontribusi para ulama dan warga NU menjadi bagian penting dari pembahasan.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *