Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita event islamofobia Kemanusiaan Palestina Kini

Tangis Ibu dan Istri Relawan Pecah di Malam Solidaritas Gaza: “Akhirnya Kami Bisa Bernapas Lega”

Ahadtimes.id, JAKARTA — Suasana haru menyelimuti acara “Malam Solidaritas dan Doa Kemanusiaan untuk Gaza” yang digelar Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) di Aula Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).

Di tengah seruan solidaritas untuk Palestina, perhatian publik tertuju pada para ibu dan istri relawan Indonesia yang sebelumnya sempat ditahan Israel saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza melalui Global Sumud Flotilla (GSF).

Tangis dan rasa syukur bercampur ketika keluarga relawan akhirnya mendapat kabar bahwa orang-orang tercinta mereka telah dibebaskan.

Salah satu kesaksian datang dari Sutrawati Kaharuddin (52), ibunda relawan asal Makassar, Andi Angga Sadewa. Dengan suara bergetar, ia mengaku baru bisa bernapas lega setelah mengetahui putranya dalam kondisi selamat.

“Hari ini saya akhirnya bisa tersenyum melihat anak saya sudah dibebaskan, walaupun masih di Turki dan belum sepenuhnya kembali ke Indonesia,” ujarnya.

Sutrawati Kaharuddin (52), ibunda relawan asal Makassar, Andi Angga Sadewa, disiarkan secara livestreamin

Rasa bangga dilontarkan oleh Radiah ibunda dari ASAD ARAS MUHAMMAD – (GPCI – Spirit of Aqso) yang berada di Kapal Kasr-1, beliau mengutarakan isi hatinya yang mendalam tentang perjuangan putranya bersama Global Sumud Flotilla (GSF).

” saya merasa bangga terhadap anak kita, yang kelak, ada yang bisa menghantarkan kita ke Surganya Allaah.” Pesan Radiah dengan suara lirih di panggung Malam Solidaritas dan Doa Kemanusiaan untuk Gaza.

Iis Kholidoh dan Raidah (memegang mic), mengutarakan testimoninya sebagai salah satu keluarga aktivis kemanusian GSF yang di “culik” oleh tentara zionis Israel di perairan internasional

Sedangkan Iis kholidoh, istri dari Asad, yang juga duduk bersanding di panggung acara ini menggetarkan spirit para undangan yang hadir.

“Bahwa genosida yang terjadi di Gaza maka apa yang dilakukan suami saya dan keikhlasan saya untuk mengikhlaskan suami saya, itu adalah hal kecil tidak sebanding dengan apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Gaza.” Ujar Iis memberikan semangat.

Kesaksian para keluarga relawan menjadi momen emosional dalam acara tersebut. Mereka menceritakan bagaimana hari-hari penuh kecemasan harus dilalui sejak para relawan ditahan saat membawa misi kemanusiaan untuk warga Gaza.

Dalam forum itu, sejumlah pembicara menyebut pengalaman para relawan Indonesia menjadi gambaran kecil dari penderitaan yang setiap hari dialami rakyat Palestina di bawah blokade dan agresi berkepanjangan.

“Saudara-saudara kita yang sempat ditahan itu merasakan sebagian kecil dari penderitaan rakyat Palestina,” disampaikan salah satu narasumber dalam dialog solidaritas tersebut.

Pembina GPCI, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), mengatakan perjuangan kemanusiaan untuk Gaza tidak boleh berhenti hanya karena para relawan telah dibebaskan. Menurutnya, dukungan moral dan perhatian publik harus terus dijaga.

UBN juga mengingatkan bahwa isu Gaza perlahan bisa tenggelam jika tidak terus diperjuangkan bersama oleh media, tokoh masyarakat, dan aktivis kemanusiaan.

“Jangan sampai isu tentang Gaza menjadi sepi,” tegasnya dalam acara tersebut.

Acara Malam Solidaritas dan Doa Kemanusiaan untuk Gaza itu turut dihadiri jurnalis, organisasi kemanusiaan, tokoh masyarakat, hingga keluarga besar relawan Global Sumud Flotilla.

Selain menjadi ruang doa bersama, forum tersebut juga menjadi simbol bahwa perjuangan rakyat Palestina masih mendapat dukungan luas dari masyarakat Indonesia, termasuk dari keluarga para relawan yang rela mempertaruhkan keselamatan demi misi kemanusiaan.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *