Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita Palestina Kini

Syahid di Medan Dakwah: Jurnalis Gaza Gugur Saat Menjaga Kebenaran

Gaza, 25 Agustus 2025 — Di tengah kobaran api dan reruntuhan rumah sakit, dunia Islam kembali kehilangan salah satu penjaga nurani umat. Maryam Abu Daqqa, jurnalis muslimah Gaza, gugur dalam serangan udara Israel saat meliput tragedi kemanusiaan di Kompleks Medis Nasser, Khan Younis.

Maryam dikenal karena keberaniannya meliput langsung dari zona merah di Gaza, bahkan setelah kehilangan rumah dan peralatan kerjanya akibat serangan udara. Ia tetap bertahan, menggunakan kamera seadanya untuk merekam penderitaan rakyat Palestina, menjadikannya simbol keberanian jurnalis muslimah di medan konflik.
Maryam dikenal karena keberaniannya meliput langsung dari zona merah di Gaza, bahkan setelah kehilangan rumah dan peralatan kerjanya akibat serangan udara. Ia tetap bertahan, menggunakan kamera seadanya untuk merekam penderitaan rakyat Palestina, menjadikannya simbol keberanian jurnalis muslimah di medan konflik.

Maryam bukan sekadar pewarta. Ia adalah saksi mata penderitaan rakyat Palestina, yang tetap bertahan di tanah kelahirannya meski kehilangan rumah, keluarga, dan peralatan kerja. Ia memilih untuk tetap menulis, memotret, dan menyuarakan kebenaran—hingga akhirnya syahid di medan dakwah.

> “Energinya tidak tertandingi. Ia adalah panutan bagi jurnalis muda Gaza,” ujar Tahseen Al Astal, Wakil Ketua Serikat Jurnalis Palestina.

Serangan yang menewaskan Maryam terjadi saat para jurnalis, pasien, dan relawan berkumpul di lantai atas rumah sakit. Dua rudal menghantam bangunan tanpa peringatan. Empat jurnalis lainnya turut gugur: Khaled Mohammed Al-Madhoun (Palestine TV), Hussam al-Masri (Reuters), Mohammed Salam (Al Jazeera), dan Moaz Abu Taha (NBC).

📉 Tragedi Terbesar bagi Dunia Jurnalistik

Sejak agresi Israel dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 240 jurnalis telah gugur di Gaza. Angka ini menjadikan konflik Palestina sebagai tragedi paling mematikan bagi jurnalis dalam sejarah modern, melampaui Perang Dunia dan konflik Afghanistan.

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) menyebut pembunuhan ini sebagai “tindakan sistematis untuk membungkam pemberitaan dan menghapus jejak kejahatan perang.”

—

🧕 Maryam: Muslimah Pejuang Pena

Maryam dikenal sebagai jurnalis yang menggabungkan ketajaman analisis dengan kelembutan hati. Ia sering menulis tentang anak-anak pengungsi, ibu-ibu yang kehilangan keluarga, dan relawan medis yang bekerja tanpa henti. Dalam setiap karyanya, ada doa, ada harapan, dan ada seruan untuk dunia Islam agar tidak tinggal diam.

> “Ia tidak hanya meliput. Ia berdoa, menangis, dan menulis dengan darahnya,” tulis rekannya dalam unggahan perpisahan.

—

🕊️ Seruan Nurani dari Umat Islam

Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) menyebut pembunuhan Maryam sebagai “tindakan keji yang harus dibalas dengan solidaritas dan penyebaran kebenaran.” Mereka menyerukan kepada media Islam untuk terus mengangkat suara Gaza, agar dunia tidak lupa bahwa di balik statistik, ada jiwa-jiwa yang syahid.

Maryam Abu Daqqa telah pergi, namun jejaknya tertulis di langit Gaza dan di hati umat Islam. Ia adalah syuhada pena, yang gugur bukan karena senjata, tapi karena keberanian menyuarakan kebenaran. Semoga Allah menerima amalnya dan menjadikannya bagian dari para syuhada yang dijanjikan surga.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *