Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita entering al aqsa event Kemanusiaan Palestina Kini SAJID Tokoh

Tiga Tahun Gaza, KH Bachtiar Nasir Serukan “Operating System Anti-Wahn” bagi Umat

Ahadtimes.id, JAKARTA — Tiga tahun konflik dan tragedi kemanusiaan di Gaza menjadi momentum bagi KH Bachtiar Nasir (UBN) untuk mengajak umat melakukan introspeksi. Dalam Majelis Tadabbur & Hidayah Qur’an (MTHQ) yang digelar di Maqdisi AQL, Jakarta, Rabu (7/10/2026), UBN menempatkan konsep al-wahn sebagai salah satu persoalan utama yang perlu diwaspadai umat.

UBN Menyampaikan Materi “Operating System Anti-Wahan” bagi Umat, dalam Majelis Tadabbur & Hidayah Qur’an (MTHQ) yang digelar di Maqdisi AQL, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Dalam paparannya, UBN mengajak peserta membuka Surah Ali Imran ayat 146. Ia menyoroti karakter para pengikut nabi (ribbiyyun) yang, menurut penjelasannya, tidak menjadi lemah karena bencana, tidak patah semangat, dan tidak menyerah kepada manusia.

UBN kemudian mengajukan pertanyaan reflektif: karakter tersebut lebih terlihat pada masyarakat Gaza atau umat yang menyaksikan tragedi tersebut dari luar.

“Setelah tiga tahun, Surah Al-Imran 146 justru hidup pada warga Gaza,” ujar UBN.

Gaza dan Refleksi tentang Al-Wahn

Menurut UBN, tiga karakter yang disebutnya dari Surah Ali Imran ayat 146 adalah tidak mengalami wahn, tidak kehilangan kekuatan, serta tidak menyerah atau mundur.

Ia kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan umat yang berada di luar Gaza. Menurutnya, persoalan yang perlu diwaspadai bukan semata kelemahan fisik, melainkan kelemahan hati.

“Yang terjadi adalah wahn mengintai umat yang menonton dari luar,” katanya.

UBN membedakan antara kondisi lemah sebagai bagian dari keterbatasan manusia dengan wahan sebagai pilihan hati. Dalam pemaparannya, seseorang yang secara fisik lemah tidak otomatis disebut mengalami wahan. Sebaliknya, ia menyebut wahan sebagai kondisi ketika seseorang memiliki kemampuan tetapi diliputi rasa takut dan kehilangan harapan.

“Lemah boleh. Karena manusia diciptakan lemah. Banyak orang lemah. Memang takdirnya lemah. Tetapi wahan adalah pilihan hati yang lemah.”

Lima Pintu yang Ditawarkan

Dari refleksi tersebut, UBN kemudian memaparkan sejumlah “pintu” yang menurutnya perlu dibangun oleh para kader untuk berkontribusi terhadap persoalan Baitul Maqdis.

Lima pintu yang disebut dalam paparannya meliputi : ilmu, tarbiyah, dakwah dan media, advokasi hukum, serta wakaf dan kemanusiaan.

Ia menempatkan ilmu dan pendidikan sebagai fondasi. Dakwah dan media disebut memiliki posisi penting karena media dapat menjadi sarana menyampaikan informasi dan membangun kesadaran publik.

Peserta Majelis Tadabbur & Hidayah Qur’an (MTHQ) yang digelar di Maqdisi AQL, Jakarta, Rabu (7/10/2026)

Sementara itu, advokasi hukum serta dukungan wakaf dan kemanusiaan diarahkan sebagai bagian dari kontribusi sosial yang lebih konkret.
UBN juga menyampaikan rencana pemberangkatan tim kemanusiaan dan jurnalis ke Mesir dan Yordania untuk mendokumentasikan serta memberitakan kondisi yang terjadi di kawasan tersebut.

Dari Tadabur Al-Qur’an Menuju Rencana Aksi
Dalam muqaddimah tersebut, UBN menjelaskan bahwa rangkaian daurah tidak dimaksudkan berhenti pada kajian teori. Ia menyebut sejumlah agenda yang akan dibahas, mulai dari fakta tiga tahun Gaza, tadabur Ali Imran ayat 139–148, diagnosis umat, cermin sejarah dan sunnatullah, hingga peran kader dan rencana aksi 40 hari.

Ia juga menyebut pentingnya memahami Al-Qur’an bukan hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi sebagai pedoman untuk membaca pola kehidupan dan mengambil pelajaran dari sejarah.

“Jadi kita harus punya di dalam diri kita Operating System Anti-Wahn,” tegasnya.

Konsep tersebut menjadi salah satu benang merah utama dalam pemaparannya: bagaimana umat tidak berhenti pada rasa prihatin, tetapi membangun kapasitas ilmu, pendidikan, dakwah, advokasi, kemanusiaan, dan kontribusi nyata.

Menyoroti Kisah Bani Israil dalam Al-Ma’idah UBN kemudian mengaitkan konsep wahn dengan kisah Bani Israil dalam Surah Al-Ma’idah ayat 20–26. Ia menyoroti perintah untuk memasuki tanah yang telah ditetapkan Allah dan alasan penolakan sebagian Bani Israil karena ketakutan terhadap kekuatan lawan.

Menurut UBN, dialog dalam ayat tersebut menggambarkan bagaimana rasa takut dapat menjadi penghalang seseorang untuk menjalankan perintah dan mengambil langkah. Ia juga menyoroti dua orang yang tetap mendorong kaumnya untuk masuk dan bertawakal.

Dari sana, ia kembali menghubungkan pembahasan dengan lima pintu yang telah disebutkan sebelumnya serta membaginya dalam kerangka yang ia sebut i’dad ma’rifi, politik, dan militer. Namun, UBN menegaskan bahwa pembahasan militer memiliki wilayah yang berbeda dan tidak menjadi fokus yang ia jabarkan untuk konteks Indonesia.

“Wahn” sebagai Sikap Menyerahkan Perjuangan kepada Orang Lain
Pada bagian akhir muqaddimah, UBN menggambarkan apa yang disebutnya sebagai puncak wahn: menyerahkan perjuangan kepada pihak lain sementara diri sendiri memilih duduk dan menunggu.
Ia menggunakan sejumlah institusi internasional sebagai contoh dalam pertanyaan retorisnya, termasuk ICC dan Dewan Keamanan PBB, untuk menggambarkan sikap yang menurutnya terlalu menggantungkan perubahan kepada pihak lain.

Narasumber yang juga memberikan narasi dan semangat yang sama, dari kanan ke kiri : Ust. Ridwan Hakim ( Moderator ), Reza Aldilla Kurniawan ( Relawan Kemanusian MER-C ), Ust. Muhammad Husein Gaza ( CEO & Founder INH For Humanity ), As’ad Aras Muhammad ( aktifis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 delegasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).

Menurutnya, seseorang yang lemah secara fisik tidak perlu merasa bersalah karena kelemahan merupakan bagian dari kondisi manusia. Namun, ia membedakan hal tersebut dari wahn.

“Wahn itu adalah orang yang bisa tapi takut. Mampu tapi putus asa dan tidak mampu.”

UBN kemudian mengingatkan konsekuensi yang ia kaitkan dengan sikap tersebut melalui kisah Bani Israil yang disebut mengalami masa panjang di padang pasir setelah menolak perintah untuk masuk. Ia menutup bagian ini dengan seruan agar generasi saat ini tidak sekadar menjadi penonton, tetapi dapat menjadi jembatan bagi lahirnya generasi berikutnya.

“Anda ingin digantikan dengan generasi baru atau Anda ingin menjadi jembatan untuk generasi baru? Semoga semuanya jadi jembatan.”

Muqaddimah sekitar 30 menit itu kemudian ditutup UBN sebelum sesi dilanjutkan oleh para pembicara berikutnya.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *