Ustadz Salim A Fillah Turun ke Aceh, Bachtiar Nasir Serukan Tobat Ekologis atas Bencana Sumatera
Aceh Tamiang, Sumatera – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November hingga awal Desember 2025 mengundang perhatian berbagai tokoh agama. Dua ustadz nasional, Salim A Fillah dan Bachtiar Nasir, tampil dengan peran berbeda dalam merespons tragedi ini.

Ustadz Salim A Fillah turun langsung ke lokasi terdampak di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Bersama tim relawan, ia mendirikan posko bantuan dan menyalurkan logistik kepada warga yang kehilangan rumah serta akses pangan. Dalam dokumentasi yang dibagikan melalui akun media sosialnya, Salim A Fillah menggambarkan kondisi warga yang bahkan sempat terpaksa meminum air banjir karena keterbatasan sumber bersih. Kehadirannya di lapangan menjadi contoh nyata dakwah aksi, di mana ulama tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga hadir secara fisik untuk membantu korban.

Sementara itu, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) menyampaikan seruan moral melalui pernyataan publik. Ia menekankan pentingnya “tobat ekologis”, yakni kesadaran bahwa bencana tidak hanya disebabkan faktor alam, tetapi juga akibat ulah manusia seperti deforestasi, kerusakan lingkungan, dan buruknya sistem drainase. Menurut UBN, musibah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus menjadi momentum refleksi nasional untuk memperbaiki perilaku terhadap alam.
Kehadiran dua tokoh ini memperlihatkan dimensi ganda dalam respons ulama terhadap bencana: aksi nyata di lapangan dan refleksi spiritual-ekologis. Salim A Fillah memberi teladan kepedulian langsung, sementara Bachtiar Nasir mengingatkan masyarakat akan akar masalah yang lebih mendalam.
Sinergi keduanya menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya soal logistik, tetapi juga soal kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan. Dengan demikian, pesan yang disampaikan bukan sekadar mengatasi dampak sesaat, tetapi juga mendorong perubahan perilaku demi mencegah tragedi serupa di masa depan.









