Akupuntur Mas Budi Hadir di Gunung Geulis, Dorong Warga Lebih Peduli Gaya Hidup Sehat
Ahadtimes.id, Gunung Geulis, Kab. Bogor — Keluhan kesemutan, nyeri pinggang, tekanan darah tinggi hingga asam urat menjadi sejumlah persoalan kesehatan yang ditemui praktisi akupuntur Budi Eko Putra Setiawan, A.Md.Akup, atau yang akrab disapa Mas Putra, saat memberikan layanan dalam Bazar Amal Berkah 2026 di Gunung Geulis, Kabupaten Bogor.

Mas Putra merupakan bagian dari tim layanan kesehatan yang mendukung kegiatan sosial yang digelar Qinshoo bersama sejumlah mitra pada 19–20 September 2026. Kehadirannya membawa pendekatan “Aku Puntur Masuk Desa”, yakni memberikan layanan sekaligus edukasi kesehatan secara lebih dekat kepada masyarakat.
Dalam wawancara di lokasi kegiatan, Mas Putra mengatakan dirinya menemukan sejumlah keluhan kesehatan yang cukup beragam dari warga yang datang mendapatkan pelayanan.
“Mereka banyak mengeluhkan tentang kesemutan, keluhan di pinggang. Sama beberapa juga banyak yang darah tinggi, banyak yang asam urat,” ujar Mas Putra.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak cukup hanya ditangani melalui terapi. Edukasi mengenai pola hidup sehat juga menjadi bagian penting agar masyarakat memiliki pengetahuan untuk menjaga kesehatan sehari-hari.
Salah satu yang menjadi perhatian Mas Putra adalah pola konsumsi garam dan natrium.
Ia mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi garam serta menerapkan kebiasaan hidup sehat. Edukasi juga diarahkan pada aktivitas sederhana seperti olahraga, peregangan, dan stretching yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga :
Klinik Caya Bawa Semangat Kesehatan Berbasis Syariah ke Gunung Geulis
Bazar Amal Berkah 2026 Qinshoo Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis untuk Warga Gunung Geulis
Lihat Video : https://www.instagram.com/reel/DdkbjiclJTp/?stkn=MW1rcmkxNTNvZ2Rycw==
Aku Puntur Masuk Desa
Bagi Mas Putra, keterlibatan dalam Bazar Amal Berkah menjadi bagian dari upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat desa.

Ia menilai konsep “Aku Puntur Masuk Desa” memiliki peluang untuk terus dikembangkan karena masyarakat di wilayah pedesaan membutuhkan akses terhadap layanan yang mungkin tidak selalu tersedia di sekitar mereka.
“Untuk Aku Puntur Masuk Desa ini sangat baik banget, positif. Saya sangat mendukung karena masyarakat desa ini membutuhkan penanganan kesehatan,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, layanan kesehatan diberikan secara terpadu bersama sejumlah pihak. Panitia KKN Kelompok 19 Institut Nida El Adabi sebelumnya melakukan survei dan menemukan adanya keluhan kesehatan masyarakat, khususnya dari warga lanjut usia serta keterbatasan fasilitas kesehatan yang menjadi salah satu perhatian mereka.
Karena itu, panitia menggandeng sejumlah mitra, di antaranya Klinik Caya, komunitas Totok Punggung, dan Aku Puntur untuk menghadirkan pelayanan kesehatan bagi warga Gunung Geulis.
Tak Hanya Terapi, tetapi Edukasi
Pengalaman di lapangan juga menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan. Mas Putra menyebut keluhan warga seperti tekanan darah tinggi dan asam urat perlu diikuti dengan pemahaman mengenai kebiasaan hidup yang lebih sehat.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Bazar Amal Berkah 2026 yang tidak hanya menghadirkan pemeriksaan dan terapi kesehatan, tetapi juga penyuluhan kepada masyarakat.
Ketua Yayasan Gema 1 Doa Center, Arasy Mufakkir, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat tidak sekadar memperoleh pelayanan, tetapi juga mendapatkan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah seorang warga, Ryoza dari RT 04/RW 03 Gunung Geulis, mengaku terbantu dengan adanya pemeriksaan kesehatan. Ia datang untuk memeriksa gula darah, kolesterol, dan asam urat, kemudian mendapatkan layanan Aku Puntur. Hasil pemeriksaan yang diterimanya disebut baik.
Menurut Ryoza, kegiatan seperti ini membuat warga yang sebelumnya jarang melakukan pemeriksaan menjadi mengetahui kondisi kesehatannya. Dengan begitu, warga dapat lebih memperhatikan makanan dan menjaga kesehatan.
Berharap Program Berlanjut
Mas Putra berharap kegiatan pelayanan kesehatan seperti ini tidak berhenti di Gunung Geulis. Ia membuka kemungkinan agar konsep serupa dapat diperluas ke desa-desa lain atau dikembangkan dengan cakupan penerima manfaat yang lebih besar.
“Harapan saya, semoga program ini terus berlanjut. Enggak cuma di desa Gunung Geulis, atau bisa di desa-desa yang lain, atau tetap di Gunung Geulis tapi cakupannya lebih luas lagi,” tuturnya.
Semangat tersebut memperlihatkan bahwa layanan kesehatan berbasis komunitas dapat menjadi ruang pertemuan antara tenaga pelayanan, mahasiswa, lembaga pendidikan, relawan, dan masyarakat.
Bazar Amal Berkah 2026 sendiri tidak hanya menempatkan kesehatan sebagai layanan sesaat, tetapi sebagai bagian dari gerakan kebaikan yang ingin terus dikembangkan. Penyelenggara berharap kegiatan tersebut dapat menjangkau lebih banyak masyarakat Gunung Geulis dan sekitarnya melalui pemeriksaan kesehatan, pengobatan, penyuluhan, sunatan massal, serta kegiatan sosial lainnya.









