Khutbah Jumat UBN: Jihad Kedaulatan Pangan, Jalan Umat Menuju Kemerdekaan dan Kemuliaan
AhadTimes.id – Ulama nasional, Bachtiar Nasir (UBN), dalam khutbah Jumat pada 17 April 2026 mengangkat tema besar “Jihad Kedaulatan Pangan” sebagai bagian integral dari iman, kemuliaan umat, dan masa depan peradaban Islam.

Dalam khutbahnya, UBN menegaskan bahwa persoalan pangan bukan sekadar isu teknis atau ekonomi semata, melainkan persoalan strategis yang berkaitan erat dengan tauhid, kemandirian, dan kekuatan umat.
“Pangan bukan hanya urusan pasar atau petani. Pangan adalah urusan umat, keluarga, negara, bahkan dakwah,” tegasnya.
Pangan: Fondasi Peradaban dan Keamanan Umat
Allah berfirman dalam Surah Quraisy ayat 4
: ٍ ال َّذِي أ َطْعَمَهُم ْ مِن ْ جُوع ٍ وَ آمَنَهُم ْ مِن ْ خَوْف
“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”
UBN mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa terbebas dari lapar dan rasa takut merupakan dua nikmat utama bagi manusia. Hal ini menunjukkan bahwa pangan dan keamanan adalah fondasi utama dalam membangun peradaban.
Menurutnya, masyarakat yang bergantung pada pihak lain dalam urusan pangan akan mudah ditekan, diarahkan, bahkan kehilangan kedaulatannya.
“Bangsa yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri akan kehilangan keberanian untuk berdiri tegak,” ujarnya.
Kedaulatan Pangan adalah Amanah Iman
Dalam perspektif Islam, lanjut UBN, pangan bukan sekadar komoditas, tetapi amanah yang harus dijaga. Bahkan, kedaulatan pangan merupakan bagian dari maqashid syariah karena berkaitan dengan penjagaan jiwa dan keberlangsungan kehidupan.
Ia mengkritik kondisi ketika lahan luas tidak produktif, petani tetap miskin, dan bangsa kaya sumber daya namun bergantung pada impor.
“Yang rusak bukan hanya ekonomi, tetapi juga tata amanah,” katanya.
Etos Produktivitas: Menghidupkan Tanah Mati
UBN juga mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ tentang keutamaan menghidupkan tanah mati sebagai simbol etos produktivitas umat Islam.
Konsep ini, menurutnya, relevan dengan kondisi saat ini, di mana umat didorong untuk:
Mengelola lahan tidur
Mengembangkan teknologi pertanian
Menguatkan koperasi umat
Mendorong generasi muda terjun ke sektor pangan
“Islam tidak mendidik umatnya menjadi konsumen pasif, tetapi produsen yang memakmurkan,” jelasnya.
Jihad Pangan: Dari Ilmu hingga Aksi Nyata
Dalam khutbahnya, UBN menegaskan bahwa membangun kedaulatan pangan adalah bagian dari jihad peradaban, yang mencakup:
Jihad ilmu: mempelajari pertanian, distribusi, dan teknologi pangan
Jihad amal: menanam, memproduksi, dan mendukung petani
Jihad kebijakan: mendorong keberpihakan pada sektor pangan
Jihad akhlak: menghindari pemborosan dan ketidakadilan
Ia menekankan bahwa jihad ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti tidak menyisakan makanan, menanam di pekarangan, hingga mendukung produk lokal.
Peran Keluarga dan Lembaga Umat
UBN juga mengajak seluruh elemen umat, mulai dari keluarga, masjid, pesantren hingga lembaga pendidikan untuk berperan aktif dalam membangun kemandirian pangan.
Ia menggambarkan sebuah visi besar jika umat Islam bergerak bersama:
Setiap keluarga sadar pangan sebagai amanah
Pesantren memiliki proyek pangan produktif
Masjid menjadi pusat edukasi wakaf pertanian
Pemuda menjadikan pertanian sebagai bidang kehormatan
“Yang bangkit bukan hanya ekonomi, tetapi harga diri dan kemerdekaan umat,” ungkapnya.
Pesan Penutup: Dari Khutbah Menjadi Gerakan
Di akhir khutbah, UBN mengingatkan bahwa pesan ini tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ia mengajak umat untuk:
Memperbaiki adab terhadap makanan
Mengurangi pemborosan
Menghormati petani dan pekerja pangan
Membangun ekonomi halal yang produktif
“Tangan yang menanam lebih mulia daripada tangan yang menunggu,” pungkasnya.
UBN menutup khutbah dengan doa agar umat Islam menjadi pribadi yang tidak hanya pandai berdoa, tetapi juga kuat berikhtiar dalam membangun peradaban yang mandiri dan berdaulat.
#enteringalaqsa #indonesiamuslimnetwork #indonesiamuslimactionnetwork









