Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi buruh yang mengguncang Jakarta, satu nama tiba-tiba menjadi gema di seluruh penjuru negeri: Affan Kurniawan. Ia bukan orator, bukan tokoh politik, bukan pemimpin serikat. Ia hanyalah seorang pengemudi ojek online yang sedang mencari nafkah halal untuk membahagiakan ibunya dan menyekolahkan adik-adiknya.

Namun, ketika mobil taktis Brimob melindas tubuhnya di tengah kericuhan, Affan menjadi simbol. Simbol dari rakyat kecil yang tak bersenjata, tak berkuasa, namun memiliki satu hal yang tak bisa dibungkam: ketulusan.
Ribuan orang mengiringi jenazahnya. Tokoh-tokoh besar datang melayat. Presiden Prabowo meminta maaf dan berjanji menjamin kehidupan keluarganya. Mengapa seorang pemuda sederhana bisa dimuliakan sedemikian rupa?
Dalam kajian Islam, ada amalan-amalan yang tak terlihat oleh manusia, namun dikenal oleh langit. Berbakti kepada orang tua, mencari nafkah halal, menjaga shalat di tengah kesibukan, dan wafat dalam keadaan tertindas—semua itu adalah tanda-tanda husnul khatimah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika ada empat puluh orang yang menyalatkan jenazah seorang muslim dan mereka tidak menyekutukan Allah, maka Allah akan menerima syafaat mereka untuk jenazah itu.” (HR. Muslim)
Affan mungkin tak dikenal oleh dunia semasa hidupnya. Tapi ia dikenal oleh Tuhan karena amalnya. Ia wafat dalam perjuangan, bukan sebagai pelaku, tapi sebagai korban. Dan dalam Islam, orang yang wafat dalam keadaan dizalimi memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah.









