Ahli Gizi Melliana Eka: Cegah Stunting Dimulai dari Isi Piring, Bukan Susu Mahal
Ahadtimes.id, JAKARTA – Pencegahan stunting tidak harus dimulai dengan makanan mahal atau susu formula berharga tinggi. Kunci utamanya justru terletak pada pola makan bergizi seimbang, pemanfaatan pangan lokal, serta kebiasaan makan sehat yang dibangun sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia pertumbuhan.
Pesan tersebut disampaikan Melliana Eka, S.Tr.Gz., dalam sesi edukasi gizi pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-11 Gerai Sehat Rorotan (GSR) bertajuk “A Great Generation Without Stunting, Yes We Can”, yang diselenggarakan PTTEP Indonesia bekerja sama dengan Dompet Dhuafa di Rusun Rorotan, Jakarta Utara, Rabu (22/7/2026).

Terapkan Konsep “Isi Piringku”
Dalam paparannya, Melliana mengajak para ibu menerapkan konsep “Isi Piringku” sebagai pedoman sederhana dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Ia menjelaskan bahwa setiap kali makan, porsi protein sebaiknya memenuhi area selebar telapak tangan, sementara sayuran mengisi sekitar setengah piring, disertai karbohidrat dalam jumlah yang sesuai kebutuhan tubuh.
Menurutnya, pola makan masyarakat selama ini cenderung didominasi karbohidrat, sedangkan asupan protein yang berperan penting dalam pertumbuhan anak masih kurang.
“Yang sering terjadi justru kekurangan protein dan kebanyakan karbohidrat. Padahal protein sangat penting untuk pertumbuhan anak,” jelas Melliana.
Pangan Lokal Tak Kalah Bergizi
Melliana menepis anggapan bahwa makanan bergizi selalu identik dengan bahan pangan impor atau produk berharga mahal.
Ia menjelaskan, berbagai pangan lokal Indonesia justru memiliki kandungan gizi yang sangat baik untuk mencegah stunting.
Sebagai contoh, ikan teri memiliki kandungan kalsium lebih tinggi dibandingkan susu, sedangkan daun kelor menjadi sumber kalsium alami yang mudah diperoleh masyarakat.
Selain itu, ikan kembung dan ikan sidat disebut memiliki kandungan omega-3 yang bahkan lebih tinggi dibandingkan ikan salmon.
“Pangan lokal kita sebenarnya sangat unggul. Tidak harus mengeluarkan biaya besar untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga,” ujarnya.
Atur Jadwal Makan Anak
Selain memperhatikan jenis makanan, Melliana juga menekankan pentingnya membangun pola makan yang teratur.
Ia menyarankan anak mendapatkan tiga kali makan utama dan dua kali camilan sehat setiap hari. Orang tua juga diimbau tidak memberikan camilan atau susu secara berlebihan sebelum waktu makan karena dapat membuat anak kenyang lebih dulu sehingga mengurangi konsumsi protein dan makanan bergizi lainnya.
Menurutnya, disiplin terhadap jadwal makan merupakan salah satu langkah sederhana yang berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak.
Anak di Bawah Dua Tahun Tak Perlu Gula Tambahan
Dalam sesi tanya jawab, Melliana menjelaskan bahwa pemanis alami seperti stevia memang dapat menjadi alternatif bagi orang dewasa, terutama penyandang diabetes.
Namun, ia mengingatkan bahwa anak usia di bawah dua tahun tidak memerlukan tambahan gula, termasuk stevia.
Rasa manis, katanya, cukup diperoleh secara alami dari bahan pangan seperti ubi dan buah-buahan agar anak tidak terbiasa mengonsumsi makanan yang terlalu manis sejak dini.
Ayah Punya Peran Besar Mencegah Stunting
Menariknya, Melliana menegaskan bahwa keberhasilan membangun keluarga sadar gizi bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu.
Menurutnya, ayah memiliki peran yang sama penting sebagai pendukung utama dalam menciptakan lingkungan makan yang sehat di rumah.
Ia mengingatkan agar orang tua memiliki kesepakatan mengenai jenis makanan yang tersedia di rumah serta membiasakan makan bersama agar anak mencontoh pola makan sehat dari kedua orang tuanya.
“Peran ayah adalah menjadi support system. Anak belajar kebiasaan makan bukan hanya dari makanan yang disiapkan ibu, tetapi juga dari contoh yang diberikan orang tua saat makan bersama,” jelasnya.
Edukasi Gizi Jadi Kunci Generasi Bebas Stunting
Melalui edukasi tersebut, Melliana berharap semakin banyak keluarga memahami bahwa pencegahan stunting tidak cukup dilakukan ketika anak telah lahir, tetapi harus dimulai sejak masa kehamilan dengan pola makan bergizi seimbang, pemanfaatan pangan lokal, serta keterlibatan seluruh anggota keluarga.
Ia menegaskan bahwa perubahan kebiasaan makan di rumah menjadi investasi penting untuk melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.









