Dubes Iran di Forum SAJID: Persatuan Umat Islam Kunci Hadapi Hegemoni Zionis
Ahadtimes.id, Jakarta – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa persatuan umat Islam merupakan kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk konflik yang melibatkan Palestina dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal tersebut disampaikan dalam forum Friday Morning Talk yang diselenggarakan oleh Serikat Jurnalis Islam Indonesia (SAJID) di AQL Islamic Center, Jumat (26/6/2026).

Dalam forum yang dipandu oleh Ustadz Bactiar Nasir (UBN) dan dihadiri para jurnalis, aktivis media, dan pegiat dakwah tersebut, Boroujerdi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia atas dukungan yang diberikan kepada Republik Islam Iran di tengah situasi konflik yang tengah berlangsung. Ia menilai dukungan moral dari masyarakat internasional, termasuk Indonesia, memiliki arti penting bagi rakyat Iran.
Iran: Kekuatan Sejati Bukan Sekadar Militer
Dalam pemaparannya, Boroujerdi menegaskan bahwa kekuatan utama Iran tidak semata-mata terletak pada persenjataan, teknologi militer, ataupun kemampuan ekonomi. Menurutnya, sumber kekuatan terbesar Iran justru berasal dari ketahanan masyarakat, persatuan nasional, serta nilai-nilai spiritual yang mengakar kuat sejak Revolusi Islam 1979.
“Jika Iran hanya mengandalkan rudal, drone, atau kekuatan militer, tentu masih ada pihak lain yang memiliki kemampuan lebih besar. Namun, kekuatan sesungguhnya terletak pada keyakinan, persatuan, dan ketahanan rakyat,” ungkapnya dalam forum tersebut.
Ia kemudian menyinggung pengalaman mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, yang menurutnya memiliki kedekatan historis dengan Iran dan pernah bertemu langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran setelah bebas dari penjara apartheid. Kisah tersebut, kata dia, menunjukkan bagaimana nilai perjuangan dan keteguhan prinsip mampu membangun solidaritas lintas bangsa.
Dubes Iran Tegaskan Tidak Ada Pertentangan Sunni dan Syiah
Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam forum tersebut adalah hubungan antara kelompok Sunni dan Syiah di dunia Islam. Boroujerdi menegaskan bahwa narasi pertentangan Sunni-Syiah selama ini sering kali dimanfaatkan untuk memecah belah umat Islam.
Menurutnya, umat Islam memiliki fondasi yang sama, yakni satu Tuhan, satu Al-Qur’an, satu kiblat, dan satu Rasulullah SAW.
“Kita semua adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. Allah kita satu, Al-Qur’an kita satu, kiblat kita satu, dan musuh umat Islam juga satu,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan Iran terhadap Palestina tidak didasarkan pada identitas mazhab, melainkan pada prinsip membela bangsa yang tertindas dan memperjuangkan keadilan. Menurutnya, rakyat Palestina terdiri dari berbagai kelompok, namun seluruhnya merupakan bagian dari umat Islam yang harus dibela bersama.
Media Dinilai Berperan Penting dalam Perang Modern
Dalam sesi dialog, para peserta juga menyoroti pentingnya diplomasi publik dan perang informasi di era modern. Sejumlah pertanyaan diajukan terkait strategi Iran dalam membangun narasi di tengah derasnya arus informasi global dan dominasi media internasional.

Forum mencatat bahwa perang modern tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga di ruang informasi, media sosial, dan opini publik internasional. Karena itu, media dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi global terhadap suatu konflik.
Para peserta yang berasal dari kalangan jurnalis Muslim sepakat bahwa media Islam perlu memperkuat kapasitas dalam menghadirkan pemberitaan yang akurat, berimbang, dan mampu menjelaskan konteks geopolitik secara lebih komprehensif.
SAJID Perkuat Literasi Geopolitik Jurnalis Muslim
Forum Friday Morning Talk yang digelar SAJID tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat literasi geopolitik, diplomasi internasional, serta wawasan global di kalangan jurnalis Muslim Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog antara insan media dengan para diplomat dan pengambil kebijakan internasional.
Di akhir forum, peserta menegaskan pentingnya menjaga persatuan umat Islam di tengah berbagai dinamika global serta memperkuat peran media dalam membangun narasi perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan.









