Malam Takbiran Bukan Sekadar Tradisi, Bachtiar Nasir: Saatnya Muhasabah dan Membesarkan Allah dalam Hati
JAKARTA — Malam takbiran kerap dipenuhi gema takbir yang berkumandang di berbagai penjuru masjid dan jalanan. Namun di balik kemeriahan tersebut, terdapat makna spiritual yang jauh lebih dalam daripada sekadar tradisi menyambut hari raya.
Pembina AQL Qurban Care, Bachtiar Nasir, mengingatkan bahwa malam takbiran sejatinya merupakan momentum untuk menghidupkan hati dengan pengagungan kepada Allah SWT.
Hal itu merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang menyebutkan bahwa manusia diperintahkan mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya.
“Takbir adalah bentuk pengakuan bahwa Allah Maha Besar atas seluruh nikmat dan hidayah yang Dia berikan,” ujar UBN dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, malam takbiran bukan sekadar euforia menyambut hari raya, tetapi malam syukur dan muhasabah diri.
Ia menjelaskan, ulama tafsir Abdurrahman as-Sa’di menerangkan bahwa perintah bertakbir bertujuan agar manusia mengagungkan Allah sebagai bentuk rasa syukur atas petunjuk-Nya.
Karena itu, setiap ucapan “Allahu Akbar” seharusnya lahir dari kesadaran bahwa seluruh keberhasilan ibadah, termasuk kemampuan berkurban, terjadi semata karena pertolongan Allah.
“Takbir bukan hanya suara yang menggema di lisan, tetapi latihan membesarkan Allah di dalam hati,” katanya.
UBN juga mengutip pandangan Ibnu Taimiyah yang menjelaskan bahwa takbir disyariatkan pada momen-momen besar ketika manusia berkumpul atau melaksanakan amal besar.
Tujuannya, lanjut dia, agar kebesaran Allah mengalahkan seluruh kebesaran dunia dalam hati manusia.
“Dengan takbir, seorang hamba belajar menundukkan ego, dunia, dan segala sesuatu yang selama ini terlalu diagungkan,” jelasnya.
Ia menilai malam takbiran menjadi waktu terbaik untuk melakukan evaluasi diri setelah menjalani rangkaian ibadah menjelang Iduladha.
Menurutnya, umat Islam perlu bertanya kepada diri sendiri apakah ibadah yang dilakukan benar-benar dilandasi keikhlasan atau sekadar rutinitas tahunan.
“Apakah kurban kita benar-benar karena Allah, atau hanya mengikuti tradisi?” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa hakikat takbir tidak terletak pada kerasnya suara yang dikumandangkan, tetapi sejauh mana kalimat “Allahu Akbar” benar-benar hidup dalam hati seorang hamba.
“Malam takbiran adalah momentum meluruskan niat, membersihkan hati, dan memperbaharui komitmen kepada Allah,” tutupnya.









