Prof. Dr. Erma Yulihastin : Intensitas Badai Ekstreme Salah Satunya Di Atas BSD City
Ahadtimes.id – Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi sorotan setelah Prof. Dr. Erma Yulihastin, seorang ahli cuaca dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan fenomena badai multisel yang terjadi di wilayah tersebut. Dalam unggahannya di akun X (Twitter) @EYulihastin, pukul 14:47 WIB, siang ini, 8 Maret 2025, beliau menjelaskan bahwa setidaknya ada enam sistem badai yang bergabung membentuk squall line (SL), atau yang dikenal sebagai badai multisel. Fenomena ini ditandai dengan warna merah pada radar cuaca, yang menunjukkan intensitas ekstrem dan pusat badai, salah satunya berada di atas BSD City.

Badai multisel adalah kumpulan badai petir yang saling terhubung, membentuk sistem yang lebih besar dan kompleks. Fenomena ini sering kali membawa hujan deras, angin kencang, dan potensi banjir di wilayah terdampak. Berdasarkan data dari BRIN, badai multisel ini dipicu oleh konvergensi angin di wilayah barat Indonesia, yang diperkuat oleh kelembapan tinggi dan suhu permukaan yang hangat.
Di BSD City, dampak badai ini dirasakan dalam bentuk hujan lebat yang menyebabkan genangan air di beberapa titik. Warga diimbau untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi banjir dan pohon tumbang akibat angin kencang. Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi seperti BMKG dan BRIN.
Fenomena badai multisel ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan infrastruktur drainase dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang langkah-langkah mitigasi bencana. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena ini, diharapkan dampak buruknya dapat diminimalkan.









