UBN: Konflik Iran–AS Berpotensi Meluas, Dampak Ekonomi Global Bisa Tak Terbayangkan
JAKARTA – Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Bachtiar Nasir, menilai eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berpotensi semakin meluas. Situasi tersebut mencuat menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta dinamika respons militer yang berkembang di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Bachtiar Nasir dalam program The Daily Buzz bertajuk “Perang Iran–AS, Timur Tengah Membara” yang tayang di kanal YouTube Okezone, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, sosok yang gugur tersebut bukan sekadar pemimpin spiritual, melainkan figur sentral dalam struktur kenegaraan Iran.
“Namanya Velayat-e Faqih. Yang dibunuh ini bukan cuma pemimpin tertinggi spiritual, tapi dalam undang-undang mereka juga sebagai panglima tertinggi militer sekaligus penentu arah ideologi,” ujarnya.
Martirisme dan Nasionalisme
Bachtiar menilai kepergian Khamenei dipandang sebagai kemartiran yang justru berpotensi memperkuat nasionalisme di dalam negeri Iran.
“Ini bukan kepergian biasa, ini martir. Martirisme biasanya melahirkan nasionalisme yang lebih kuat,” katanya.
Ia memperkirakan arah eskalasi konflik sangat bergantung pada figur yang ditetapkan sebagai pengganti. Secara politik dan militer, kata dia, faksi dominan di Iran saat ini berasal dari Garda Revolusi atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
“Bocorannya, beliau sudah menunjuk penggantinya. Di Iran, yang dominan secara politik dan militer adalah IRGC. Legitimasi kepemimpinan spiritual dan ideologinya masih sangat kuat,” jelasnya.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan adanya gejolak internal. Namun pengalaman panjang Iran menghadapi tekanan eksternal dinilai membuat negara tersebut relatif siap dalam situasi genting.
“Serangan balik pasti dilakukan dan sekarang sedang berlangsung,” ujarnya.
Dampak Regional hingga Global
Bachtiar juga menyoroti laporan mengenai 14 pangkalan militer di Timur Tengah yang disebut menjadi sasaran serangan. Menurutnya, langkah tersebut dipandang Iran sebagai respons atas ancaman yang dirasakan.
Di kawasan utara Israel, Lebanon disebut bersiap menghadapi potensi perluasan konflik. Sementara di Yaman, kelompok Houthi dilaporkan menutup jalur Laut Merah per 1 Maret, yang berdampak pada pelayaran global di kawasan Bab el-Mandeb.
“Laut Merah saja sudah membuat pelayaran global terganggu. Ini bisa berdampak luas, termasuk ke Indonesia,” katanya.
Di Irak, faksi bersenjata juga dilaporkan melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS. Ia menilai situasi tersebut menunjukkan konflik tak lagi bersifat bilateral, melainkan melibatkan banyak aktor kawasan.
Lebih jauh, ia mengingatkan potensi dampak ekonomi global apabila jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut.
“Kalau ini berlangsung dua pekan saja, inflasi global bisa tidak terbayangkan,” ujarnya.
Bachtiar menambahkan, indikator konflik global menurutnya terlihat ketika tiga negara pemilik senjata nuklir terlibat dalam gesekan terbuka dalam satu panggung konflik.
“Perang itu tidak selalu diumumkan secara formal. Cyber sudah berjalan, ekonomi sudah berjalan. Tinggal menunggu kontraksinya kapan,” kata dia.
Ia pun mengingatkan bahwa eskalasi di sejumlah titik seperti Ukraina, Laut Merah, Selat Hormuz, hingga kawasan Asia Timur menunjukkan dinamika global yang semakin kompleks dan saling terhubung.









