Ustadz Bachtiar Nasir: Pemulihan Aceh Tamiang Harus Dimulai dari Masjid
Ahadtimes.id, Jakarta Selatan — Ustadz Bachtiar Nasir menegaskan bahwa pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang harus dimulai dari masjid sebagai pusat kehidupan umat. Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers AQL Laznas dan AQL Peduli saat press confrence pelepasan armada logistik kemanusiaan bertema Pulihkan Sumatera Bersama, Kuatkan Negeri, Ahad (14/12/2025), di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan.

Menurut Ustadz Bachtiar, kondisi Aceh Tamiang pascabanjir lumpur tergolong sangat berat dan berbeda dari bencana-bencana besar sebelumnya. Lumpur tebal mengendap hampir di seluruh wilayah, merendam rumah, masjid, fasilitas umum, serta memutus akses logistik dan layanan dasar warga.
“Ini bukan hanya bencana logistik, tetapi juga krisis kemanusiaan. Banyak warga meninggal bukan karena bencana langsung, tetapi karena kelaparan,” ujar Ustadz Bachtiar berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan .
Ia menjelaskan, AQL Laznas memilih pendekatan berbasis masjid karena masjid memiliki fungsi strategis yang berkelanjutan. Selain sebagai tempat ibadah, masjid dapat diaktifkan sebagai posko darurat, dapur umum, pusat distribusi air bersih, hingga ruang pemulihan psikososial masyarakat.
“Masjid kita pulihkan, kita aktifkan MCK-nya, kita dirikan dapur umum, dan kita pasang tandon air. Dari masjid, kehidupan masyarakat bisa mulai bergerak kembali,” tegasnya.
Ustadz Bachtiar mengungkapkan, membersihkan masjid yang terendam lumpur setinggi 40 hingga 50 sentimeter bukan perkara mudah. Lumpur yang mengeras memerlukan tenaga besar, alat berat, serta mesin penyedot lumpur. Namun, masjid tetap menjadi prioritas karena manfaatnya bersifat jangka panjang bagi masyarakat.
“Kalau kita bangun shelter sementara, sering kali ditinggalkan. Tapi masjid, kita biayai permanen, pompanya, drainasenya, toran airnya, sehingga bisa terus dimanfaatkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, AQL Laznas menargetkan kerja kemanusiaan di Aceh Tamiang minimal tiga bulan, mencakup fase tanggap darurat, pemulihan, hingga layanan kesehatan dan pendampingan masyarakat. Bahkan, di sejumlah wilayah bencana sebelumnya, AQL tetap bertahan hingga bertahun-tahun karena adanya kebutuhan pembinaan umat berbasis wakaf dan masjid.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Bachtiar juga menyoroti masih banyaknya wilayah Aceh Tamiang yang belum tersentuh bantuan hingga lebih dari sepekan pascabencana. Akses transportasi yang terbatas, lumpur yang mengeras, serta minimnya alat berat menjadi hambatan utama distribusi bantuan .
Ia mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, komunitas, hingga media, untuk bersama-sama melakukan aksi nyata membantu pemulihan Aceh Tamiang.
“Jangan hanya menyampaikan informasi, tapi lakukan call to action. Ajak masyarakat untuk turun tangan. Bersama-sama, berjamaah, kita pulihkan Aceh Tamiang,” pungkas Ustadz Bachtiar Nasir.









