Ahadtimes.id, JAKARTA – Ketua Umum JATTI ( Jaringan Alumni Timur Tengah ) Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) menegaskan bahwa i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan tidak seharusnya dimaknai sebagai ruang isolasi, tetapi sebagai inkubator spiritual dan strategis untuk melahirkan gagasan serta gerakan umat.

Hal tersebut disampaikan UBN dalam konferensi pers kegiatan I’TIKAF Strategic Camp (ISC) 2026: Reclaiming The Soul, Conquering The Future bertema Spirit Badar yang digelar di Masjid Raya Al-Ittihaad Tebet, Kamis (12/3/2026) menjelang waktu berbuka puasa.
Baca Juga : UBN Gaungkan Spirit I’tikaf Camp 2026, Saatnya Umat Bangkit Demgan Iman dan Strategi
Menurutnya, konsep i’tikaf yang ia gagas dalam program ISC bukan sekadar aktivitas berdiam diri di masjid, tetapi menjadi ruang inkubasi spiritual yang melahirkan pemikiran, strategi, dan keputusan besar bagi umat.
“Bagi saya ruang i’tikaf itu bukan ruang isolasi. Dinding-dinding masjid ini bukan untuk mengisolasi diri, tetapi untuk menjadi ruang inkubasi,” ujarnya. �

I’tikaf sebagai Inkubator Gerakan
Ustadz Bachtiar Nasir menjelaskan, jika i’tikaf dimaknai hanya sebagai ruang isolasi, maka yang terjadi adalah aktivitas pasif. Namun ketika dipahami sebagai inkubator, i’tikaf justru melahirkan gerakan dan gagasan besar.
Ia mencontohkan fenomena yang sering terjadi di masjid ketika i’tikaf, di mana sebagian jamaah lebih banyak beristirahat tanpa memiliki misi spiritual yang jelas.
“Kalau masjid jadi ruang isolasi, biasanya yang banyak itu rebahannya. Tapi kalau jadi ruang inkubasi, yang muncul adalah gerakan dan gagasan,” jelasnya. �
Karena itu, melalui I’tikaf Strategic Camp 2026, ia ingin mengubah cara pandang umat terhadap i’tikaf, dari sekadar ibadah personal menjadi proses pembentukan visi dan strategi umat.
Menyusun Roadmap Dakwah 50 Tahun
Dalam kegiatan ISC ini, Bachtiar Nasir juga mengungkapkan dirinya sedang menyusun roadmap gerakan dakwah hingga tahun 2076. Ia sengaja melibatkan generasi muda berusia sekitar 20 tahun agar mereka dapat melanjutkan perjuangan tersebut di masa depan.
“Saya sedang menyusun roadmap 2026 sampai 2076. Karena umur kita tidak tahu, maka generasi muda harus mendengar sejak sekarang agar bisa melanjutkan,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah momen paling tepat untuk melakukan internalisasi ruhiyah yang mendalam, memohon ampunan atas masa lalu, sekaligus mengambil keputusan strategis bagi masa depan umat.
Tiga Pilar Spirit ISC 2026
Dalam I’tikaf Strategic Camp 2026, UBN menanamkan tiga pilar utama yang menjadi fondasi kegiatan tersebut, yaitu:
Spirit Badar – semangat kemenangan dan strategi umat.
Spirit Fathu Makkah – semangat pembebasan dan kemenangan moral.
Spirit Pembebasan Al-Aqsa – komitmen terhadap perjuangan umat Islam global.
Menurutnya, ketiga spirit tersebut menjadi inspirasi untuk membangun mentalitas kemenangan dan kebangkitan umat.
Masjid sebagai Pusat Peradaban
Ustadz Bachtiar Nasir juga berharap masjid di masa depan tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat perencanaan peradaban umat.
Karena itu, ia menilai masjid harus menjadi tempat lahirnya ide, strategi dakwah, hingga gerakan sosial yang berdampak luas.
“Masjid itu harus menjadi ruang kerja yang sesungguhnya, tempat lahirnya gagasan dan gerakan umat,” ujarnya.
Melalui konsep i’tikaf sebagai inkubator, UBN berharap sepuluh malam terakhir Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga melahirkan generasi yang siap memimpin masa depan umat. (RAM)









