Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Berita event Nasional SAJID Tokoh

Aksi Rakyat Bela Indonesia Digelar Serentak Besok, di Jakarta dan Bandung, Gaungkan Lima Tuntutan Kebangsaan

JAKARTA – Aksi Rakyat Bela Indonesia digelar serentak di Jakarta dan Bandung, Ahad (8/11/2026), dengan membawa pesan persatuan nasional dan lima tuntutan kebangsaan. Gerakan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat ini dipusatkan di Lapangan Hijau Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan, serta Masjid Al-Jabbar, Bandung.

Penyelenggaraan aksi di dua kota tersebut merupakan tindak lanjut konsolidasi sejumlah tokoh bangsa dan pimpinan organisasi kemasyarakatan yang berlangsung di Auditorium Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Ketua Organizing Committee (OC) Aksi Rakyat Bela Indonesia, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), dalam konferensi pers menjelaskan bahwa gerakan ini terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, tidak terbatas pada umat Islam maupun organisasi tertentu.

“Jadi bukan hanya terbatas kepada umat Islam, ini elemen rakyat yang kita ajak untuk bersatu dalam gerakan ini,” kata UBN.

Ia menjelaskan, rangkaian aksi di Jakarta diawali dengan salat Subuh berjamaah di Masjid Agung Al-Azhar. Selanjutnya, peserta berkumpul di Lapangan Hijau untuk mengikuti acara utama yang dijadwalkan berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB.

“Besok mulai dari salat Subuh, puncak acaranya nanti jam 08.00 sampai jam 10.00,” ujar UBN dalam konferensi pers, Sabtu (7/11/2026).

Sementara itu, untuk wilayah Bandung, aksi direncanakan berlangsung di Masjid Al-Jabbar dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Lima Tuntutan Jadi Agenda Utama

Dalam konferensi pers tersebut, UBN membacakan lima tuntutan yang menjadi landasan gerakan Aksi Rakyat Bela Indonesia.

Pertama, mengajak seluruh rakyat Indonesia bersatu untuk membela Indonesia. Kedua, mengajak rakyat bersatu melawan pengkhianat bangsa dan negara.

Ketiga, mengajak masyarakat bersatu melawan oligarki dan negara-negara asing yang disebut menjadi pelindung oligarki. Keempat, menuntut pelaksanaan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 secara penuh dan konsisten.

Kelima, menuntut penegakan hukum sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Mahkamah Agung (MA) secara konsisten.

UBN menegaskan bahwa kelima tuntutan tersebut akan terus dikawal oleh masyarakat yang terlibat dalam gerakan.

“Dan rakyat yang diwakili oleh Aksi Rakyat Bela Indonesia akan mengawal sampai ini terlaksana. Ini lima tuntutan kami, salam lima jari,” tegasnya.

Salah satu isu yang disoroti dalam tuntutan penegakan hukum adalah polemik dokumen pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Gerakan tersebut mendesak agar putusan MK dan MA yang berkaitan dengan polemik itu dilaksanakan secara konsisten.

Berawal dari Konsolidasi Tokoh Bangsa

Aksi Rakyat Bela Indonesia berawal dari pertemuan sejumlah tokoh nasional dan pimpinan organisasi kemasyarakatan pada 6 November 2026. Pertemuan tersebut dipimpin Ketua Pembina Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al-Azhar, Prof. Jimly Asshiddiqie, dan dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Dr. Ferry Juliantono dan KH Muhammad Zaitun Rasmin.

Dalam konsolidasi yang dilanjutkan melalui konferensi pers pada Sabtu (7/11/2026), Wakil Ketua Umum MUI Pusat, KH Muhammad Zaitun Rasmin, menyebut gerakan tersebut lahir dari kesadaran bersama mengenai pentingnya memperkuat persatuan nasional.

Menurut Kiai Zaitun, Indonesia menghadapi berbagai tantangan kebangsaan, termasuk pengaruh oligarki dan intervensi kepentingan asing yang dinilainya dapat melemahkan kedaulatan serta kepentingan nasional.

“Ini semua tentu merendahkan bangsa kita dan tidak bisa dihadapi kecuali kita ada bersama, bersatu,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa gerakan ini tidak mengukur keberhasilan hanya dari besar atau kecilnya jumlah peserta. Hal yang lebih penting adalah substansi aspirasi dan keterlibatan masyarakat dalam merespons persoalan bangsa.

“Bagi kita sebetulnya bukan besar atau kecilnya aksi, tetapi bagaimana aksi itu secara substansial benar-benar sangat diperlukan oleh umat, diperlukan oleh bangsa kita, dan masyarakat kita, rakyat kita bergerak,” jelasnya.

Simbol Lima Jari sebagai Pesan Persatuan

Aksi Rakyat Bela Indonesia menggunakan simbol lima jari sebagai identitas gerakan. Kiai Zaitun menjelaskan, simbol tersebut merepresentasikan persatuan yang melampaui perbedaan kelompok, organisasi, maupun latar belakang masyarakat.

“Lima jari insyaallah tidak mengkotak-kotakkan kita. Sementara simbol-simbol lain itu bisa mengkotak-kotakkan kita. Lima jari jelas Pancasila,” ungkapnya.

Bagi umat Islam, lima jari juga dapat dimaknai sebagai representasi lima rukun Islam. Namun, dalam konteks gerakan kebangsaan, simbol tersebut lebih ditonjolkan sebagai lambang komitmen terhadap Pancasila dan kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Selain isu persatuan, konsolidasi para tokoh juga menyoroti polemik dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh masyarakat. UBN mempertanyakan kemungkinan adanya agenda politik di balik dugaan penyadapan tersebut, tetapi tidak menyampaikan kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab.

Melalui penyelenggaraan aksi di Jakarta dan Bandung, para penggagas berharap pesan persatuan dan lima tuntutan kebangsaan dapat menjangkau masyarakat lebih luas. Gerakan ini juga mengajak berbagai unsur, mulai dari tokoh masyarakat, aktivis, mahasiswa, buruh, hingga kelompok masyarakat lainnya, untuk terlibat dalam mengawal persoalan nasional.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *