Kyai Zaitun Rasmin dan UBN Serukan Persatuan Nasional Lewat Aksi Rakyat Bela Indonesia, Soroti Dugaan Penyadapan
Jakarta – Sejumlah tokoh bangsa dan pimpinan organisasi kemasyarakatan menyerukan pentingnya memperkuat persatuan nasional di tengah berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia, termasuk kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh masyarakat.

Seruan tersebut mengemuka dalam konsolidasi dan konferensi pers Aksi Rakyat Bela Indonesia yang berlangsung di Auditorium Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, menegaskan bahwa gerakan tersebut lahir secara spontan dari kesadaran bersama sejumlah tokoh bangsa mengenai pentingnya memperkuat persatuan dan konsolidasi nasional.
“Sebenarnya ini aksi spontan, ini perlu saya tegaskan. Kemarin kami silaturahim. Itu silaturahim kedua. Awalnya kami silaturahim para tokoh, pimpinan ormas, di tempat Pak Feri. Lalu berkembang, kita ngobrol lagi dengan tokoh-tokoh bangsa lainnya,” ungkap Kiai Zaitun.
Menurutnya, pertemuan yang turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, termasuk Prof. Jimly Asshiddiqie, tersebut berkembang menjadi kesepahaman untuk segera mengambil langkah bersama menghadapi berbagai persoalan kebangsaan.
Kiai Zaitun menilai Indonesia tengah menghadapi tantangan serius, mulai dari pengaruh oligarki hingga intervensi kepentingan asing yang dinilai dapat melemahkan kedaulatan dan kepentingan nasional.
“Ini semua tentu merendahkan bangsa kita dan tidak bisa dihadapi kecuali kita ada bersama, bersatu,” tegasnya.
Ustaz Bachtiar Nasir Soroti Dugaan Motif Politik Penyadapan
Dalam kesempatan yang sama, Ustaz Bachtiar Nasir turut menyoroti polemik dugaan penyadapan terhadap sejumlah tokoh, termasuk kalangan umat Islam.
Menanggapi pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan motif di balik penyadapan tersebut, Ustaz Bachtiar mempertanyakan kepentingan pihak-pihak yang diduga melakukan tindakan tersebut.
“Kalau kami-kami pun kena, dari sudut pandang kami, berarti ada hal-hal yang sebetulnya mereka agendakan. Tentu mereka lebih tahu dalam hal ini,” ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan pengalaman kelompok-kelompok Islam yang menurutnya pernah dipersepsikan sebagai oposisi politik pada masa pemerintahan sebelumnya.
“Katakanlah misalnya di rezim Jokowi kemarin, kami dari kelompok Islam dianggap sebagai oposisi, misalnya. Ya berarti, mungkin melihat kami secara politik mengancam buat mereka,” ungkapnya.
Meski demikian, Ustaz Bachtiar tidak memberikan kesimpulan pasti mengenai pihak yang berada di balik dugaan penyadapan tersebut. Ketika ditanya mengenai kemungkinan keterkaitan dengan pemerintahan sebelumnya, ia menyebut bahwa pandangan semacam itu juga disampaikan oleh sejumlah tokoh lain.
“Saya kira bukan saya yang bicara, para tokoh umumnya ya. Para tokoh umumnya begitu,” katanya.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan dugaan yang disampaikan narasumber, bukan kesimpulan hasil penyidikan mengenai siapa yang memerintahkan atau menjadi pihak di balik penyadapan.
Di tengah berbagai pertanyaan mengenai motif dan kepentingan politik tersebut, Ustaz Bachtiar menegaskan bahwa posisi para tokoh yang terlibat dalam gerakan ini tetap sebagai bagian dari masyarakat yang menginginkan Indonesia tetap kuat dan bersatu.
“Tapi posisi kami tentu tetap sebagai masyarakat, dan kami menginginkan agar Indonesia tetap kuat bersatu ke depan,” tegasnya.
Kiai Zaitun: Bukan Soal Besar Kecilnya Massa
Sementara itu, Kiai Zaitun menjelaskan bahwa konsolidasi para tokoh bangsa akan dilanjutkan dengan Aksi Rakyat Bela Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad (8/11/2026) di Jakarta dan Bandung.
Untuk wilayah Bandung, aksi direncanakan berlangsung di Masjid Al-Jabbar dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Meski aksi tersebut berpotensi menghadirkan massa dalam jumlah besar, Kiai Zaitun menekankan bahwa ukuran keberhasilan gerakan bukan semata-mata terletak pada banyaknya peserta.
“Bagi kita sebetulnya bukan besar atau kecilnya aksi, tetapi bagaimana aksi itu secara substansial benar-benar sangat diperlukan oleh umat, diperlukan oleh bangsa kita, dan masyarakat kita, rakyat kita bergerak,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen masyarakat, baik tokoh bangsa, aktivis, mahasiswa, buruh, maupun kelompok masyarakat lainnya, merupakan bagian penting dari upaya membangun kesadaran bersama terhadap persoalan nasional.
Kiai Zaitun juga menjelaskan penggunaan simbol lima jari dalam Aksi Rakyat Bela Indonesia sebagai representasi persatuan yang melampaui sekat-sekat kelompok dan organisasi.
“Lima jari insyaallah tidak mengkotak-kotakkan kita. Sementara simbol-simbol lain itu bisa mengkotak-kotakkan kita. Lima jari jelas Pancasila,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa simbol tersebut juga memiliki makna lima rukun Islam bagi umat Islam. Namun, dalam konteks gerakan kebangsaan, simbol lima jari dikedepankan sebagai representasi komitmen terhadap Pancasila dan kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
“Yang kita tonjolkan ini adalah Aksi Rakyat Bela Indonesia lima jari, kurang lebih adalah penegakan Pancasila secara konsisten, secara sesungguhnya demi kemaslahatan masyarakat, rakyat, dan bangsa kita tercinta ini,” pungkasnya.
Melalui konsolidasi tersebut, para tokoh berharap berbagai persoalan nasional dapat direspons melalui keterlibatan masyarakat yang mengedepankan kepentingan bangsa, sekaligus memperkuat persatuan dan menjaga kedaulatan Indonesia.









