Satu dalam Kebenaran

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Advetorial Gema Mulia ASI Center

Ilustasi gambar digital diolah oleh AI, Modi bersama warga hindu Indonesia
Berita Opini Politik

Menimbang Pernyataan Modi: Politik Identitas dan Humanisme Hindu di Indonesia

Narendra Modi, Perdana Menteri India, kembali menjadi sorotan setelah mengeluarkan pernyataan yang dianggap sebagai bentuk diskriminasi terhadap komunitas Muslim dalam kampanye pemilu di Rajasthan pada 21 April 2024. Pernyataan tersebut mengandung narasi yang menggambarkan Muslim sebagai “penyusup” dan mengindikasikan bahwa oposisi akan mengalokasikan sumber daya negara kepada mereka yang memiliki lebih banyak anak—sebuah sentimen yang jelas menyudutkan komunitas Muslim di India.

Dalam konteks politik India yang sarat dengan identitas agama, ujaran semacam ini bukanlah hal baru. Sejak berkuasa, Modi dan Partai Bharatiya Janata (BJP) telah berulang kali menggunakan retorika Hindu nasionalis untuk memobilisasi basis pemilihnya. Strategi ini sering kali memperdalam polarisasi sosial, memperkuat prasangka terhadap minoritas, dan meminggirkan keberagaman yang sebenarnya menjadi inti dari sejarah panjang India.

Namun, menarik jika kita menilik perspektif lain tentang Hindu sebagai sebuah filsafat kehidupan. Di Indonesia, yang memiliki akar budaya Hindu yang kuat, nilai-nilai humanisme dalam ajaran Hindu berkembang dengan cara yang lebih inklusif.

Humanisme Hindu di Indonesia: Perspektif Keberagaman

Indonesia, meskipun mayoritas beragama Islam, menyimpan sejarah panjang interaksi dengan agama Hindu, terutama di Bali dan beberapa wilayah lain seperti Tengger dan Lombok. Dalam tradisi Hindu di Indonesia, konsep Tat Twam Asi—yang berarti “Aku adalah kamu, kamu adalah aku”—menjadi dasar bagi hubungan sosial yang saling menghormati dan memahami. Kepercayaan ini menekankan empati dan kesadaran bahwa semua manusia adalah bagian dari kesatuan spiritual yang sama.

Prinsip ini terlihat dalam kehidupan masyarakat Hindu di Indonesia, yang cenderung menekankan harmoni, keterbukaan, dan nilai toleransi terhadap perbedaan. Hindu di Indonesia tidak berkembang sebagai ideologi politik yang eksklusif, melainkan sebagai kebudayaan yang berinteraksi dengan nilai-nilai lokal, membentuk pola keberagaman yang lebih menyatu dengan masyarakat sekitarnya.

Dalam konteks ini, pernyataan Modi terasa jauh dari spirit humanisme Hindu yang berkembang di Indonesia. Alih-alih menggunakan kebijaksanaan Hindu untuk membangun kesatuan, ia justru menggunakannya sebagai alat politik yang memisahkan.

Kritik dari Tokoh-Tokoh Internasional

Pernyataan Modi telah memicu kecaman dari berbagai pemimpin dan akademisi internasional. Irfan Nooruddin, profesor politik India di Georgetown University, menyebut bahwa ujaran Modi adalah bagian dari strategi lama BJP untuk menggalang dukungan berbasis Hindu nasionalisme.

Sementara itu, Asaduddin Owaisi, seorang anggota parlemen Muslim India, mengecam Modi dengan mengatakan bahwa sejak 2002 hingga sekarang, Modi selalu menggunakan retorika anti-Muslim untuk mendapatkan suara.

Media internasional seperti CNN dan France24 juga menyoroti bagaimana pernyataan Modi memperdalam perpecahan sosial di India dan memicu tuduhan ujaran kebencian.

Politik Identitas dan Masa Depan India

Pernyataan Modi tidak hanya berpotensi memperburuk hubungan sosial di India, tetapi juga menciptakan preseden berbahaya bagi kebijakan pemerintahan yang semakin memperkuat eksklusivitas. Politik identitas yang berbasis pada agama tidak hanya menutup peluang bagi dialog lintas budaya, tetapi juga merusak konsep keberagaman yang seharusnya menjadi bagian dari warisan India.

Di Indonesia, Hindu tidak digunakan sebagai alat politik untuk membangun supremasi terhadap kelompok lain, tetapi lebih sebagai filosofi hidup yang membentuk masyarakat yang inklusif. Hal ini menjadi perbandingan yang tajam terhadap cara Modi dan BJP mengelola narasi Hindu di India.

Sebagai negara demokratis yang memiliki sejarah panjang keberagaman, India menghadapi tantangan besar dalam menjaga nilai-nilai pluralismenya. Ujaran seperti yang diutarakan Modi tidak hanya membahayakan kelompok Muslim tetapi juga mengkhianati esensi spiritual Hindu yang sejatinya menjunjung tinggi keberagaman manusia.

Kritik terhadap pernyataan Modi seharusnya tidak hanya datang dari komunitas Muslim, tetapi juga dari kalangan Hindu yang mengerti nilai-nilai kemanusiaan dalam ajaran mereka. Jika Hindu di Indonesia dapat berkembang dengan semangat keterbukaan dan toleransi, mengapa Hindu di India semakin digunakan sebagai alat politik untuk eksklusivitas dan polarisasi?

India, dengan sejarah panjang sebagai tanah multikultural, perlu mempertimbangkan kembali bagaimana para pemimpinnya menggunakan agama dalam politik. Karena pada akhirnya, tidak ada ajaran yang lebih besar daripada kemanusiaan itu sendiri.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *