Boston, 5 April 2025 – Ribuan demonstran turun ke jalan dalam aksi “Hands Off,” sebuah gelombang protes besar-besaran yang berlangsung di lebih dari 1.200 lokasi di seluruh Amerika Serikat. Aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump yang dianggap mengancam demokrasi dan hak asasi manusia. Boston dan Massachusetts menjadi wilayah tumpah ruahnya para pengunjuk rasa.

Protes Meluas di Seluruh Negeri
Demonstrasi ini diorganisir oleh koalisi lebih dari 150 kelompok progresif, serikat pekerja, dan organisasi hak asasi manusia. Para pengunjuk rasa berkumpul di lokasi-lokasi strategis seperti Washington Square Park di New York, Civic Center Plaza di San Francisco, dan Lafayette Square Park di Washington, D.C., membawa spanduk bertuliskan “Hands Off” sebagai simbol penolakan terhadap kebijakan Trump.

Kebijakan Kontroversial yang Diprotes
Para demonstran memprotes berbagai kebijakan, termasuk pemotongan dana federal, pengurangan tenaga kerja pemerintah, dan kebijakan yang dianggap merugikan kelompok tertentu seperti imigran dan komunitas LGBTQ+. Selain itu, pengaruh Elon Musk dalam pemerintahan juga menjadi sorotan, terutama terkait kebijakan ekonomi yang dinilai menguntungkan para miliarder.
Jamie Raskin, anggota DPR AS dari Partai Demokrat, menyatakan, “Kami berhak memprotes apa yang benar tanpa ditangkap, dideportasi, atau dipecat. Kami bahkan berhak menyebut presiden gila karena menghancurkan ekonomi kami.” Sementara itu, Maxwell Frost, perwakilan Demokrat dari Florida, menambahkan, “Peningkatan otoritarianisme yang berbahaya ini dipicu oleh para miliarder korup dan perusahaan besar yang percaya bahwa mereka memiliki hak untuk mengendalikan setiap aspek kehidupan kita.”
Gedung Putih menanggapi aksi ini dengan menyatakan bahwa kebijakan efisiensi pemerintah bertujuan untuk mengurangi pemborosan dan penipuan dalam sistem federal. Mereka juga mengkritik aksi ini sebagai “gerakan akar rumput palsu” yang didorong oleh ideologi kiri progresif.
Aksi “Hands Off” mencerminkan kekhawatiran mendalam masyarakat terhadap kebijakan kontroversial pemerintahan Trump. Gelombang protes ini menjadi simbol perlawanan terhadap otoritarianisme dan upaya untuk mempertahankan nilai-nilai demokrasi. (Diolah dari berbagai sumber)









