Menyalakan Cahaya Islam di Tanah Toraja: Kisah Ustazah Aini Hafifah, Da’iyyah Muda Penggerak Dakwah di Wilayah Minoritas
Makassar — Di tengah hiruk pikuk Terminal Bus Metro Permai, Makassar, pada 31 Agustus 2025, seorang perempuan muda berkerudung rapi tampak menenteng tas besar. Ia adalah Aini Hafifah, seorang da’iyyah atau pendakwah perempuan dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang bersiap memulai perjalanan dakwah menuju Kabupaten Tana Toraja, wilayah pegunungan dengan masyarakat mayoritas non-Muslim.

Langkahnya bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati — membawa cahaya Islam ke tanah yang sunyi dari lantunan adzan.
Berangkat pukul 09.30 WITA bersama dua pendamping, Aini menempuh perjalanan delapan jam melalui jalan menanjak dan berliku. Setibanya di pesantren, ia disambut dengan suasana sederhana namun penuh semangat santri yang haus ilmu dan kasih sayang seorang guru.
Kehadiran Aini merupakan bagian dari program pengabdian da’iyyah DDII, sebuah misi yang tak hanya mengajar, tapi juga menghidupkan ruh pesantren di tengah masyarakat minoritas Muslim di Toraja.
Mendidik dan Menumbuhkan Iman di Tanah Minoritas
Sejak hari pertama, Ustazah Aini langsung aktif mendampingi santri dalam kegiatan pembinaan dan perlombaan keagamaan. Ia turut mendampingi santri SMP Pesantren Pembangunan Muhammadiyah Tana Toraja dalam Lomba Kemah Tahfidz Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan di Sidrap pada 13–17 September 2025.
Dengan kerja keras dan bimbingannya, para santri berhasil membawa pulang dua piala di bidang tilawah Al-Qur’an.
Kemenangan itu menjadi bukti nyata bahwa semangat dakwah dan cinta Al-Qur’an tetap menyala, meski di tengah masyarakat yang berbeda keyakinan.

Memasuki 22 September 2025, Aini memulai hari pertamanya mengajar secara penuh. Ia membuka pelajaran dengan permainan dan diskusi ringan, menciptakan suasana belajar yang hangat. Selain mengajarkan menulis dan tahsin Al-Qur’an, ia juga membimbing shalat Dhuha berjamaah, menanamkan disiplin, kejujuran, dan kecintaan terhadap ibadah.
Pada malam hari, para santri mengikuti kegiatan rutin Qira’atul Surah Al-Mulk dan penyetoran mufradat bahasa Arab — membentuk karakter dan semangat keilmuan yang hidup di hati para santri.
Dakwah yang Hidup dari Hati
Setiap akhir pekan, Ustazah Aini menciptakan kegiatan “Jalan Pagi & Bincang Santri,” sebuah ruang santai untuk berbagi cerita, mendengarkan keluh kesah, dan mempererat hubungan antar santriwati.
Dalam setiap momen, Aini selalu menyampaikan pesan sederhana namun mendalam:
“Dakwah bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, tapi siapa yang paling konsisten menebar kebaikan.”
Kehadiran Ustazah Aini Hafifah di Tana Toraja menjadi simbol keteguhan, cinta, dan pengorbanan dalam dakwah. Di tanah yang mayoritas penduduknya berbeda keyakinan, ia menyalakan harapan bahwa pesantren bisa tetap hidup, dan cahaya Islam akan terus bersinar selama masih ada da’iyyah yang berani menjejak, mengajar, dan mencintai umat dengan ketulusan.









